zmedia

Bahasa dalam Ruang Publik: Fungsi, Makna, dan Pengaruh Sosial

Sofiul Umam,Mahasiswa Universitas Annuqayah Prodi Teknik Sipil.
HARIANCENDEKIA, OPINI - Bahasa bukan sekadar alat untuk berbicara atau menulis. Ia adalah jendela bagi manusia untuk melihat dunia, sekaligus cermin yang memantulkan masyarakat di sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa hadir di mana-mana, dari percakapan santai di warung kopi hingga pidato resmi di gedung pemerintahan. Tak jarang, bahasa juga menjadi medan pertarungan ide, opini, dan bahkan kekuasaan. Fenomena ini semakin kentara dalam ruang publik, tempat orang bertemu, berinteraksi, dan menyampaikan gagasan.

Secara sederhana, bahasa adalah alat komunikasi sosial yang memungkinkan manusia saling memahami. Menurut Ferdinand de Saussure (1916), seorang ahli linguistik terkenal, bahasa adalah sistem tanda yang digunakan manusia untuk menyampaikan makna. Sedangkan ruang publik bisa dimaknai sebagai arena sosial di mana individu atau kelompok bertukar informasi, berdiskusi, atau mengekspresikan diri. Di sinilah bahasa berperan penting: ia menjadi penghubung yang memfasilitasi interaksi sekaligus membentuk pola pikir masyarakat.

Salah satu fungsi utama bahasa di ruang publik adalah menyampaikan informasi. Informasi yang disampaikan melalui media massa, pidato, atau bahkan papan pengumuman memengaruhi cara masyarakat memahami suatu isu. Contohnya, dalam kampanye kesehatan, bahasa yang jelas dan persuasif dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya vaksinasi. Tidak hanya itu, bahasa juga mempengaruhi dan mengarahkan opini. Sebuah penelitian oleh Fairclough (1995) menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata tertentu dalam berita atau iklan dapat membentuk pandangan masyarakat tentang isu sosial atau politik. Bahasa yang dipilih secara hati-hati bisa membuat audiens menerima, menolak, atau bahkan mengubah perspektif mereka.

Selain itu, bahasa berfungsi mengatur perilaku sosial. Misalnya, bahasa hukum di pengadilan atau aturan lalu lintas di jalan raya bukan hanya sekadar kata-kata namun ia membentuk tata tertib dan norma dalam masyarakat. Pilihan kata, gaya komunikasi, dan nada bahasa menentukan bagaimana pesan diterima dan ditaati oleh publik. Dengan kata lain, bahasa di ruang publik tidak netral—ia sarat dengan makna, nilai, dan bahkan ideologi.

Bahasa dalam ruang publik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk realitas sosial. Kata-kata yang digunakan masyarakat sehari-hari dapat menciptakan persepsi tentang norma, identitas, atau stereotip tertentu. Sebagai contoh, istilah (warga negara baik) atau (pendatang) membawa konotasi yang berbeda dan memengaruhi cara orang memandang kelompok tertentu. Bahasa juga mengandung nilai dan ideologi yang seringkali terselubung. Michel Foucault menekankan bahwa bahasa merupakan alat kekuasaan yang dapat membentuk pandangan masyarakat, menentukan apa yang dianggap benar, dan menyingkirkan perspektif lain.

Hubungan antara bahasa dan kekuasaan semakin jelas di ruang publik. Bahasa bisa menjadi alat legitimasi bagi penguasa, politikus, atau institusi untuk menegaskan dominasi mereka. Misalnya, pidato politik yang menggunakan istilah tertentu dapat menciptakan narasi yang mendukung kebijakan pemerintah atau ideologi tertentu. Fenomena ini sering disebut sebagai hegemoni bahasa, di mana kelompok tertentu mendikte cara berpikir masyarakat melalui pilihan kata dan gaya komunikasi—bahkan dalam pengadilan masih kebanyakan mendatangkan pengacara dalam pembelaan.

Tidak hanya membentuk opini, bahasa juga mempengaruhi pola pikir dan perilaku sosial. Penelitian yang dilakukan oleh Gumperz dan Hymes, (1972) terkait sosiolinguistik menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan secara terus-menerus dapat membentuk kebiasaan berpikir, sikap, dan nilai masyarakat. Misalnya, masyarakat yang terbiasa menggunakan bahasa inklusif cenderung lebih sadar akan kesetaraan gender dibandingkan yang menggunakan bahasa eksklusif.

Perkembangan teknologi menambah dimensi baru bagi pengaruh bahasa. Di era media massa dan digital yang terus menerus berkembang, bahasa muncul di berbagai platform, dari televisi, surat kabar, hingga media sosial. Bahasa di media sosial sering kali bersifat viral, menyebar cepat dan memengaruhi opini publik dalam hitungan jam—bahkan detik. Fenomena ini menimbulkan efek ganda: di satu sisi, bahasa viral dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu tertentu. Namun di sisi lain, bisa juga memicu misinformasi atau polarisasi social.

Dalam konteks ini, kesadaran kritis terhadap penggunaan bahasa di ruang publik menjadi sangat penting. Setiap kata yang dipilih, baik dalam percakapan sehari-hari maupun di media digital, dapat membentuk opini, memengaruhi sikap, dan bahkan menegaskan kekuasaan. Oleh karena itu, memahami fungsi, makna, dan pengaruh bahasa bukan hanya relevan bagi akademisi, tetapi juga bagi setiap individu yang hidup di masyarakat modern.

Dapat kita simpulkan, bahwa bahasa adalah kekuatan yang hadir di setiap interaksi manusia. Di ruang publik, ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk makna, menegaskan nilai, dan memengaruhi perilaku sosial. Bahasa adalah alat komunikasi sekaligus instrumen kekuasaan, yang mampu mengarahkan opini, membentuk pola pikir, dan menciptakan realitas sosial. Kesadaran kritis terhadap bahasa yang kita gunakan menjadi kunci agar ruang publik tetap sehat, demokratis, dan inklusif. Dengan memahami bahasa, masyarakat tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang sadar akan kekuatan kata-kata. (*)
__________
*) Penulis: Sofiul Umam,Mahasiswa Universitas Annuqayah Prodi Teknik Sipil.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
ADVERTISEMENTseedbacklink