![]() |
| (Doc. Pewarta) Warga Desa Fluk melakukan pemalangan lahan yang diklaim digunakan PT Gane Tambang Sentosa. |
Perwakilan warga sekaligus pemilik lahan, Dino Leisubun, mengatakan aksi pemalangan pertama dilakukan pada Mei 2024. Aksi tersebut muncul setelah pihak perusahaan mengklaim lahan telah dibebaskan dan meminta warga membuka palang.
Namun, seiring berjalannya waktu, warga kembali mempertanyakan luas lahan yang digunakan PT GTS. Menurut Dino, perusahaan menyebut terdapat lahan seluas 59,2 hektare yang diklaim belum digunakan, sementara aktivitas perusahaan disebut hanya berada di area sekitar 130,7 hektare di wilayah Kampung Gambaru.
“Kami mendapat penjelasan bahwa lahan 59,2 hektare itu belum terpakai. Tetapi setelah kami turun langsung ke lokasi, faktanya lahan tersebut sudah digunakan,” ujar Dino, Sabtu (3/12).
Selain persoalan luas lahan, konflik juga dipicu oleh nilai ganti rugi yang ditawarkan perusahaan. Dino menilai harga yang ditetapkan PT GTS sebesar Rp2.000 per meter persegi terlalu rendah dan tidak mencerminkan nilai wajar lahan milik warga.
“Harga yang mereka tawarkan sangat murah, hanya Rp2.000 per meter,” katanya.
Karena tidak adanya kejelasan, palang sempat dibuka. Namun, persoalan kembali memicu ketegangan. Warga kemudian melakukan pemalangan kedua pada 27 November 2025, disusul pemalangan ketiga pada 27 hingga 31 Desember 2025, lantaran tidak ada tanggapan maupun tanggung jawab dari pihak perusahaan.
Hal senada disampaikan Gazali Renfan, salah satu pemilik lahan. Ia menegaskan hingga kini belum ada kejelasan terkait penggunaan lahannya oleh PT GTS. Ia juga menyayangkan tidak adanya respons perusahaan terhadap upaya mediasi yang telah difasilitasi Pemerintah Desa Fluk.
“Kami hanya meminta kejelasan dan tanggung jawab. Pemerintah desa sudah memanggil pihak perusahaan, tetapi tidak ada tanggapan,” kata Gazali.
Dino menambahkan, warga berharap pihak pembebasan lahan PT GTS, yakni Joko dan Okto, serta Manajer PT Gane Tambang Sentosa, Sahlan, dapat turun langsung ke Desa Fluk untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara terbuka.
“Kami meminta pihak perusahaan datang langsung ke desa agar persoalan ini bisa diselesaikan dengan jelas dan adil,” tegasnya.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak redaksi telah berupaya menghubungi manajemen PT Gane Tambang Sentosa untuk meminta klarifikasi terkait konflik lahan di Desa Fluk. Namun, belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan. [ozi/ryn]
