![]() |
| (Doc. Istimewa) Mahasiswa Teknik Industri UMM menunjukkan alat Steam Press Ecoprint hasil inovasi untuk mendukung produksi UMKM. |
Alat tersebut dirancang oleh mahasiswa Teknik Industri UMM, Iqbal Rafif Yuliono (angkatan 2023), bersama timnya melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Inovasi ini dikembangkan sebagai respons atas berbagai kendala yang masih dihadapi pelaku ecoprint, terutama terkait konsistensi hasil produksi.
Iqbal menjelaskan, metode ecoprint yang selama ini digunakan UMKM umumnya masih bersifat manual atau mengandalkan sistem otomatis sederhana. Cara tersebut kerap menghasilkan warna yang kurang kuat dan motif yang tidak merata, khususnya saat produksi dalam jumlah banyak.
“Dari pengamatan kami, metode ecoprint yang ada sering kali menghasilkan warna yang kurang kuat dan motif tidak merata. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis dengan mesin press berbasis uap,” ujarnya.
Berbeda dengan metode kukus konvensional, Steam Press Ecoprint memanfaatkan kombinasi panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Sistem ini memungkinkan proses transfer warna dan motif ke kain berlangsung lebih optimal dan merata.
Hasil uji coba menunjukkan, penggunaan uap bertekanan mampu menghasilkan warna yang lebih tajam serta detail motif yang lebih jelas. Selain itu, konsistensi hasil produksi dinilai lebih terjaga sehingga sesuai untuk kebutuhan UMKM.
“Ketika dibandingkan dengan metode kukus biasa, warna ecoprint yang dihasilkan mesin ini jauh lebih keluar dan detail motifnya lebih jelas,” tambahnya.
Steam Press Ecoprint telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint di Bululawang, Kabupaten Malang. Dari pengujian tersebut, alat ini dinilai mampu meningkatkan kualitas visual kain sekaligus menjaga keseragaman hasil produksi.
Meski mengusung konsep efisiensi, alat ini tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Steam Press Ecoprint dirancang agar proses dapat disesuaikan dengan tingkat kerumitan motif, sehingga pelaku usaha tetap dapat menghasilkan produk bernilai jual tinggi.
Selain itu, desain alat dibuat ramah bagi UMKM skala kecil dan fleksibel untuk berbagai jenis kain. Bahkan, pada beberapa material tertentu, kombinasi uap dan tekanan terbukti menghasilkan motif yang lebih maksimal.
Iqbal mengakui, peran dosen pembimbing sangat penting dalam proses pengembangan inovasi tersebut, terutama dalam menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap kebutuhan masyarakat. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas lebih besar, struktur yang lebih kokoh, serta sistem pengoperasian yang semakin praktis.
“Yang terpenting jangan takut mencoba. Dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi inovasi yang dihasilkan mahasiswa tersebut. Menurutnya, karya ini menjadi bukti keberhasilan pembelajaran berbasis praktik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan solutif.
“Kami ingin mahasiswa peka terhadap persoalan di sekitarnya dan berani menghadirkan solusi yang relevan melalui inovasi,” pungkasnya. [rin/roz]
