![]() |
| (Doc. Gemini) Ilustrasi Laboratorium rusak |
Sungguh sebuah ironi yang memuakkan ketika spanduk-spanduk kampus meneriakkan slogan “Menuju Universitas Kelas Dunia” dan “Kampus Inovasi 4.0”, sementara di dalam laboratorium mahasiswanya masih berkutat dengan osiloskop yang jarumnya macet, mikroskop yang lensanya berjamur, serta komputer dengan spesifikasi yang bahkan kalah canggih dari smartphone di saku mahasiswa. Mungkin slogan itu perlu direvisi menjadi “Menuju Universitas Kelas Dunia Maya”, karena kecanggihannya hanya ada di brosur promosi dan feed Instagram, bukan dalam realitas pembelajaran kami.
Fakultas Sains dan Teknik kerap dipandang sebagai jantung inovasi dan kemajuan teknologi di perguruan tinggi. Namun, di balik harapan besar tersebut, tidak sedikit fakultas sains dan teknik yang harus berjuang dengan keterbatasan fasilitas dan alat praktik. Ironisnya, keterbatasan ini tidak mengurangi tuntutan kepada mahasiswa untuk menguasai berbagai bidang, karena mahasiswa terbelenggu oleh tuntutan nilai akademik semata hingga lupa berkaca ke masa depan. Padahal, ketika mereka selesai menempuh pendidikan, bukan hanya teori yang akan dituntut di lapangan, melainkan pengalaman dan keterampilan sesuai bidang yang diambil.
Berhenti memuji kami sebagai “mahasiswa kreatif” hanya karena kami mampu bertahan hidup di tengah keterbatasan. Itu bukan kreativitas, melainkan mekanisme pertahanan diri (survival mechanism) akibat ketidakbecusan manajemen kampus dalam menyediakan hak kami. Jangan sebut kami “tangguh” karena berhasil merakit alat dari barang bekas atau menggunakan perangkat lunak bajakan karena kampus enggan membeli lisensi; sebutlah itu sebagai bukti kegagalan institusi dalam menyediakan sarana pembelajaran yang layak.
Kalian, para pemangku kebijakan, seolah melakukan gaslighting massal. Kalian menanamkan doktrin bahwa “keterbatasan melahirkan inovasi”. Omong kosong. Keterbatasan alat ukur presisi tidak melahirkan inovasi, melainkan menghasilkan data yang tidak valid. Keterbatasan bahan kimia di laboratorium tidak melahirkan efisiensi, tetapi melahirkan praktik imajiner. Kami menjadi seperti belajar berenang di atas pasir—hafal semua gaya dan teori, tetapi akan tenggelam seketika ketika dilempar ke kolam yang sesungguhnya.
Misteri Hilangnya Uang Kuliah Tunggal (UKT)
Kalian memungut Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang angkanya terus meroket setiap tahun dengan dalih inflasi dan peningkatan mutu. Namun, ke mana larinya uang itu? Apakah ke gedung rektorat yang marmernya mengilap dan dingin oleh AC sentral? Ke gerbang kampus megah bernilai miliaran rupiah? Ataukah ke videotron raksasa di jalan utama yang hanya berfungsi sebagai kosmetik akreditasi?
Sementara itu, laboratorium kami—jantung fakultas teknik—dibiarkan menjadi gudang besi tua. Kabel-kabel terkelupas, meja kerja yang goyah, kursi tanpa sandaran, serta ventilasi udara yang mati menjadi pemandangan sehari-hari. Apakah kami harus menunggu adanya korban kecelakaan kerja akibat alat usang, baru kalian bersedia menandatangani surat pengadaan barang? Prioritas kalian sungguh menggelikan; kalian lebih peduli pada estetika taman dibandingkan keselamatan dan kompetensi mahasiswa.
Mencetak Sarjana Gagap Teknologi
Kami datang ke sini untuk belajar menjadi insinyur dan ilmuwan masa depan, bukan ahli sejarah barang antik. Bagaimana kami dapat bersaing di era Artificial Intelligence dan Big Data jika komputer di laboratorium saja membutuhkan waktu sepuluh menit hanya untuk melakukan booting? Bagaimana kami bisa berbicara tentang nanoteknologi jika mikroskop yang tersedia merupakan peninggalan era 1990-an?
Dampaknya, ketika kami lulus dan memasuki dunia industri, kami mengalami gegar budaya teknologi. Kami terlihat bodoh di mata atasan bukan karena kami tidak cerdas, melainkan karena alat yang biasa kami gunakan di kampus sudah lama menjadi barang museum di pabrik-pabrik modern. Ijazah kami memang bertuliskan Sarjana Teknik atau Sarjana Sains, tetapi kompetensi teknis kami telah dikebiri oleh keterbatasan fasilitas kampus itu sendiri.
Berhenti menjual mimpi setinggi langit jika fasilitas yang kalian sediakan hanya cukup untuk menggali kuburan bagi masa depan lulusan kalian sendiri. Jika kalian tidak mampu menyediakan fasilitas berstandar layak, setidaknya milikilah rasa malu untuk tidak menuntut kami berprestasi tingkat dunia dengan modal alat zaman batu.
Tulisan ini bukan sekadar ketikan atau artikel yang hanya dibaca dan dilihat sepintas, melainkan secara tidak sadar menjadi ungkapan keluh kesah dan keresahan yang hidup di Fakultas Sains dan Teknologi. Melalui tulisan ini, penulis berharap dapat membuka pola pikir mahasiswa—yang sejatinya dituntut untuk bersikap kritis dan progresif—agar lebih peka terhadap realitas di sekitarnya, tidak hanya menerima keadaan, tetapi juga berani mempertanyakan dan mencari solusi.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai bentuk kepedulian serta dorongan agar perubahan dapat dimulai dari kesadaran bersama. Sebab, kemajuan fakultas dan kualitas pendidikan tidak akan tercapai tanpa peran aktif mahasiswa sebagai agen perubahan. (*)
_________
*) Penulis: Bilal, Mahasiswa Universitas Insan Budi Utomo Malang.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
