zmedia

Mahasiswa UB Harumkan Indonesia Lewat Inovasi PROBAPLAS di Ajang Internasional Turki

(Doc. Istimewa) Tim PROBAPLAS raih juara tiga kompetisi inovasi internasional di Turki.
Kota Malang, Hariancendekia.com - Mahasiswa Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (UB), Muhammad Alhafiz Arya Wardhana, meraih juara tiga dalam International Project Innovation Competition di Istanbul, Turki, Jumat (13/3), melalui inovasi PROBAPLAS bersama tim lintas negara.

Kompetisi International Project Innovation Competition mempertemukan peserta dari berbagai negara untuk mempresentasikan solusi inovatif terhadap persoalan global. Arya berkolaborasi dengan Malikha Haula Karimah dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Khikmatillo Nematov dari Uzbekistan.

Arya menjelaskan, PROBAPLAS (Prosthetic from Plastic Waste) merupakan inovasi yang memanfaatkan limbah plastik jenis HDPE sebagai bahan baku pembuatan socket prostetik. Limbah yang digunakan antara lain tutup botol dan jerigen bekas.

“PROBAPLAS berfokus pada pemanfaatan limbah HDPE menjadi komponen utama prostetik, khususnya socket prostetik,” ujar Arya dalam keterangannya.

Ia menambahkan, gagasan tersebut pertama kali dikembangkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa PUSTENA di bawah naungan Rumah Salman Institut Teknologi Bandung.

Menurut Arya, inovasi ini lahir dari dua persoalan besar, yakni keterbatasan akses alat prostetik yang mahal serta ketergantungan bahan baku impor. Di sisi lain, limbah plastik HDPE melimpah dan sulit terurai.

“HDPE daur ulang yang kami gunakan memiliki kekuatan tarik 26-33 MPa. Biaya bahan baku juga bisa ditekan hingga sekitar 2 dolar per unit atau Rp35 ribu,” jelasnya.

Ia menilai, inovasi tersebut mampu menjawab persoalan aksesibilitas alat bantu disabilitas sekaligus isu lingkungan secara bersamaan.

Selain aspek material, tim juga mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular melalui platform digital berbasis gamifikasi bernama Eco Hero. Sistem ini terintegrasi dengan bank sampah digital.

Masyarakat dapat menyetor limbah HDPE dan memperoleh poin yang dapat dikonversikan menjadi nilai ekonomi. Skema ini diharapkan meningkatkan partisipasi publik dalam pengelolaan sampah.

“Proyek ini tidak berhenti di kompetisi. Kami mulai mengimplementasikan produksi prostetik melalui kolaborasi dengan mitra dan komunitas disabilitas,” kata Arya.

Ia menyebut, sejumlah prostetik hasil pengembangan telah disalurkan kepada pihak yang membutuhkan sebagai bagian dari program sosial tim.

Dosen pembimbing Arya, Dr. Maurish Sofie Rahmi Batita, S.Pd., M.Ed, menilai inovasi tersebut memiliki potensi besar sebagai solusi berkelanjutan.

“Ide dan prototipe yang dikembangkan tidak hanya bermanfaat bagi penyandang disabilitas, tetapi juga memperkuat kesadaran lingkungan,” ujarnya.

(nus/red)
dukungan