zmedia

Kisah Alfath, Anak Tukang Bangunan yang Lolos UGM dan Borong Prestasi Nasional dan Internasional

(Doc. Istimewa) Mahasiswa UGM Alfath menerima perhargaan atas prestasinya
Yogyakarta, Hariancendekia.com - Perjalanan hidup Alfath Qornain Isnan Yuliadi (20), mahasiswa D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Klaten, menjadi sorotan.

Berangkat dari latar belakang siswa SMK dan pengalaman sebagai kuli proyek, ia kini berhasil menorehkan belasan prestasi nasional hingga internasional, setelah dinyatakan lolos UGM melalui UTBK pada 2022.

Alfath menjadi satu-satunya siswa dari sekolahnya yang berhasil lolos ke UGM. Di tengah dominasi lulusan SMA dalam seleksi perguruan tinggi, capaian tersebut menjadi pencapaian langka sekaligus membanggakan.

“Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos,” ujar Alfath, Kamis (9/4).

Keputusan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak ia tempuh dengan mudah. Sejak awal, orang tuanya berharap ia langsung bekerja setelah lulus SMK untuk membantu ekonomi keluarga.

“Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja,” tuturnya.

Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Alfath menyadari kondisi ekonomi keluarganya. Namun, tekad untuk melanjutkan pendidikan membuatnya berani meyakinkan orang tua.

“Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” kenangnya.

Untuk mewujudkan impian tersebut, Alfath bekerja sebagai kuli proyek bersama ayahnya sejak kelas dua SMK. Ia menjalani berbagai pekerjaan fisik, mulai dari menggali fondasi hingga mengangkat material bangunan.
(Doc. Istimewa) Mahasiswa UGM Alfath saat bekerja di proyek bangunan bersama ayahnya
Upah harian sekitar Rp50 ribu ia kumpulkan untuk biaya pendaftaran UTBK dan kebutuhan sekolah. “Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah,” katanya.

Di tengah kesibukan bekerja dari pagi hingga sore, Alfath tetap meluangkan waktu belajar pada malam hari. Menjelang ujian, ia bahkan mengatur waktu secara disiplin dengan empat hari bekerja dan tiga hari fokus belajar.

Perjuangannya sempat diuji saat mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari lantai dua proyek. Namun, kejadian itu tidak mematahkan semangatnya.

“Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” ujarnya.

Momen pengumuman hasil UTBK menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia membuka hasil seleksi seorang diri sebelum akhirnya memeluk ibunya dan menemui sang kakek.

“Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, ‘Saya jadi kuliah,’” kenangnya.

Bagi keluarganya, keberhasilan Alfath menjadi sejarah baru. Ia menjadi anggota keluarga pertama yang mengenyam pendidikan tinggi.

Memasuki dunia perkuliahan, Alfath mengalami perubahan signifikan. Dari pribadi yang cenderung introvert, ia mulai aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai kompetisi.

“Saya dulu bahkan diajak lomba nggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting, dan mulai aktif sejak semester tiga,” katanya.

Hasilnya, Alfath berhasil meraih sekitar 15 prestasi di tingkat nasional dan internasional. Ia juga pernah menjadi finalis kompetisi di Nanyang Technological University, Singapura.

Prestasinya tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM pada 2025. “Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” ujarnya.

Kisah Alfath menjadi bukti bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Ia berharap perjuangannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya lulusan SMK.

“Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal,” pungkasnya.

(zal/red)
-Advertisement-iklan