![]() |
| (Doc. Istimewa) Pelajar SMK Kudus soroti program MBG, diduga alami intimidasi |
Informasi mengenai dugaan intimidasi tersebut beredar di media sosial setelah tangkapan layar percakapan diunggah oleh akun lain yang terhubung dengan akun pribadi Arsya.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait kebenaran isi pesan yang diduga berisi tekanan tersebut.
Kepala sekolah tempat Arsya menempuh pendidikan, Tri Lestari, mengaku belum mengetahui secara pasti peristiwa tersebut karena belum sempat bertemu langsung dengan siswa yang bersangkutan.
“Saya belum tahu karena belum bertemu dengan anaknya. Jadi belum sempat menanyakan, ini saya juga ada kegiatan jadi belum bisa bertemu langsung,” kata Tri, Senin (6/4/2026).
Ia menegaskan pihak sekolah akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu sebelum mengambil langkah lanjutan.
“Nanti saya coba tanya dulu. Atau memang ada, soalnya saya juga belum ketemu dengan Arsya juga,” imbuhnya.
Sebelumnya, Arsya menjadi perhatian publik setelah menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto terkait program MBG.
Dalam surat tersebut, ia menyatakan penolakan untuk menjadi penerima manfaat program dan mengusulkan agar anggaran dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru.
“Namun, saya melihat masih banyak guru, termasuk di SMK Miftahul Falah tempat saya belajar, yang mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh kesejahteraan yang layak,” tulis Arsya dalam suratnya.
Ia juga menyoroti besarnya alokasi anggaran untuk program MBG yang dinilai dapat dipertimbangkan kembali.
“Di sisi lain, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG),” lanjutnya.
Dalam pernyataannya, Arsya menegaskan bahwa penolakan tersebut merupakan sikap pribadi.
“Melalui surat ini, saya menyampaikan aspirasi pribadi. Saya menyatakan menolak untuk menerima MBG untuk diri saya,” tegasnya.
Ia bahkan mengusulkan agar dana yang seharusnya ia terima dapat dialihkan kepada para guru.
“Jika memungkinkan, dana yang seharusnya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya,” ujarnya.
Arsya juga menyatakan kesediaannya untuk mengalihkan hak tersebut selama masih menjalani masa pendidikan sekitar 1,5 tahun ke depan.
Tak hanya itu, ia mengajak pelajar lain untuk turut menyuarakan kepedulian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik.
“Besar harapan saya agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pendidikan ke depan,” katanya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu kebijakan unggulan pemerintah hingga kini masih menuai beragam respons di masyarakat.
Sebagian pihak mendukung program tersebut sebagai upaya peningkatan gizi anak, sementara lainnya menyoroti besarnya anggaran yang dialokasikan.
Kasus yang dialami Arsya menambah dimensi baru dalam perdebatan tersebut, terutama terkait ruang kebebasan berpendapat di kalangan pelajar.
(rin/red)
