![]() |
| (Doc. Kompas.com) Siswa antre ambil makanan saat uji coba MBG prasmanan |
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, meninjau langsung pelaksanaan program tersebut, sekaligus berdialog dan makan bersama siswa untuk mengevaluasi efektivitas sistem baru ini.
Dalam peninjauan tersebut, Wahyu Hidayat tidak hanya mengamati alur distribusi makanan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan siswa, khususnya kelas VI. Ia menyerap aspirasi terkait kenyamanan dan preferensi siswa terhadap sistem prasmanan yang baru diterapkan.
Hasilnya, mayoritas siswa mengaku lebih menyukai metode prasmanan dibandingkan sistem sebelumnya. Mereka dinilai lebih leluasa dalam menentukan porsi makanan sesuai kebutuhan masing-masing.
“Anak-anak lebih suka metode prasmanan ini karena makanan disajikan dalam kondisi lebih hangat, porsi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” ujar Wahyu.
Dari sisi kualitas, Wahyu menilai menu MBG prasmanan telah memenuhi standar gizi seimbang. Menu yang disediakan mencakup karbohidrat, protein, buah sebagai sumber vitamin, hingga minuman pelengkap.
Ia juga menyoroti keunggulan sistem ini dalam menjaga suhu makanan tetap hangat. Hal tersebut dinilai lebih baik dibandingkan metode distribusi menggunakan ompreng dari dapur SPPG.
Namun demikian, Wahyu mengakui terdapat tantangan dalam penerapan sistem prasmanan, khususnya terkait efektivitas waktu. Proses antre dan makan dinilai berpotensi mengurangi durasi jam belajar siswa.
“Antre butuh waktu, makan juga ada waktu, berarti ada jam pelajaran yang tersita. Ini yang harus diatur kembali,” jelasnya.
Pemerintah Kota Malang, lanjut Wahyu, akan melaporkan hasil uji coba ini kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi. Koordinasi lintas pihak akan dilakukan untuk menentukan kelanjutan program, termasuk kemungkinan penerapan lebih luas.
“Ini masih uji coba, nanti kami koordinasikan dengan BGN untuk melihat kelebihan dan kekurangannya,” imbuhnya.
Selain itu, kebutuhan sumber daya manusia (SDM) dalam sistem prasmanan juga menjadi perhatian. Evaluasi akan dilakukan untuk memastikan kesiapan jika program ini diperluas.
Menanggapi isu pelaksanaan MBG saat Ramadan, Wahyu memastikan kondisi di Kota Malang tetap terkendali. Ia menyebut selama Ramadan, distribusi makanan disesuaikan dengan kondisi, yakni berupa makanan kering yang dapat dibawa pulang.
“Secara umum di Kota Malang aman. Saat Ramadan kemarin memang makanan kering yang dibawa ke rumah. Tentu ada hal-hal yang dipertimbangkan dan sekarang sudah normal kembali dan dievaluasi, alhamdulillah Kota Malang relatif aman,” pungkasnya.
(zal/red)
