![]() |
| Muhammad Dzunnurain, Founder Hariancendeki.com |
Mau beli makan, skincare, sepatu, tiket perjalanan, bahkan kebutuhan rumah tangga, tinggal klik. Barang datang. Perasaan senang muncul. Urusan bayar? Nanti saja. Toh, namanya juga paylater.
Paylater terlihat seperti solusi modern. Ia cepat, praktis, dan tidak serumit pinjaman bank. Tidak perlu datang ke kantor cabang. Tidak perlu mengisi berkas panjang. Cukup buka aplikasi, pilih metode pembayaran, lalu hidup terasa sedikit lebih ringan.
Masalahnya, hidup yang terasa ringan itu sering hanya berlangsung sampai notifikasi tagihan datang.
Paylater memang makin akrab dalam kehidupan masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan mencatat, per Februari 2026, baki debet kredit Buy Now Pay Later atau BNPL perbankan mencapai Rp27,8 triliun. Angka itu tumbuh 26,41 persen secara tahunan, dengan jumlah rekening mencapai 30,55 juta.
Artinya, paylater bukan lagi fitur kecil yang numpang lewat di aplikasi belanja. Ia sudah menjadi bagian dari cara banyak orang mengatur pengeluaran sehari-hari.
Di titik ini, kita perlu berhenti sebentar sebelum buru-buru menghakimi pengguna paylater sebagai generasi boros. Sebab, tidak semua orang memakai paylater untuk membeli barang mewah. Tidak semua orang mencicil karena ingin terlihat kaya.
Sebagian orang mungkin memang sedang ingin memanjakan diri. Tapi sebagian lain bisa jadi sedang berusaha bertahan di tengah harga kebutuhan yang terus terasa mahal, sementara pendapatan tidak selalu ikut naik.
Di sinilah paylater menjadi rumit. Ia bisa menjadi penolong, tapi juga bisa menjadi jerat.
Sebagai penolong, paylater memberi ruang napas. Ketika ada kebutuhan mendesak sementara uang belum masuk, fitur ini bisa menjadi jembatan. Untuk orang yang belum punya kartu kredit atau akses pembiayaan formal dari bank, paylater terasa seperti pintu masuk yang lebih mudah.
Namun sebagai jerat, paylater punya cara kerja yang licin. Ia membuat utang terasa tidak seperti utang.
Saat membayar dengan uang tunai, rasa kehilangan itu jelas. Dompet menipis. Saat membayar dengan kartu debit, saldo langsung berkurang. Tapi saat membayar dengan paylater, yang terasa hanya barang berhasil dibeli. Rasa sakitnya ditunda.
Padahal, yang ditunda bukan cuma pembayaran. Yang ditunda juga kesadaran bahwa kita sedang berutang. (*)
_________
*) Penulis: Muhammad Dzunnurain, Founder Hariancendekia.com.
*) Penulis: Muhammad Dzunnurain, Founder Hariancendekia.com.
