zmedia

Kaget di Kota Pendidikan, Kisah Mahasiswa Temui Fenomena Kumpul Kebo Saat Menginap di Kos Teman

(Doc. Hariancendekia.com/AI)Mahasiswa terkejut melihat pasangan tinggal bersama dalam satu kamar kos
Kota Malang, Hariancendekia.com - Fenomena hidup bersama tanpa ikatan pernikahan atau kumpul kebo di lingkungan kos mahasiswa di Kota Malang mengejutkan sebagian perantau. Kenzo (22), bukan nama asli,  mahasiswa asal Sumenep, Jawa Timur, mengaku mengalami langsung situasi tersebut saat singgah di kos temannya.

Peristiwa itu terjadi ketika ia beristirahat di tempat tinggal rekannya, dan mendapati pasangan laki-laki dan perempuan tinggal dalam satu kamar.

Kenzo, yang merupakan alumni pesantren, mengaku tidak menyangka akan menemukan praktik tersebut di lingkungan mahasiswa. Ia datang dengan ekspektasi bahwa kos mahasiswa umumnya memiliki aturan yang serupa dengan tempat tinggal lain pada umumnya.

“Saya kira kos biasa seperti umumnya. Tapi ternyata ada pasangan laki-laki dan perempuan yang tinggal satu kamar,” ujarnya.

Pengalaman itu menjadi kejutan budaya bagi Kenzo. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan pesantren yang menerapkan aturan ketat terkait interaksi antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan nilai tersebut membuatnya merasa asing.

“Di tempat saya, hal seperti itu jelas tidak bisa diterima. Jadi waktu melihat langsung, jujur saya kaget,” katanya.

Fenomena kumpul kebo di kalangan mahasiswa di Malang bukan isu baru. Dalam satu tahun terakhir, praktik living together itu menjadi sorotan, terutama karena dinilai bertentangan dengan norma sosial dan Peraturan Daerah (Perda) setempat.

Banyaknya aduan masyarakat terkait kos atau rumah sewa yang diduga menjadi tempat praktik tersebut mendorong Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Malang memperketat pengawasan. Pada 2026, patroli di sejumlah kawasan kos mahasiswa akan ditingkatkan.

Selain aspek sosial dan norma, fenomena ini juga dikaitkan dengan persoalan kesehatan. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 355 kasus HIV/AIDS yang terdeteksi.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan dampak pergaulan bebas di kalangan anak muda, khususnya di kota dengan populasi mahasiswa tinggi seperti Malang. Perbedaan latar belakang budaya, pendidikan, dan lingkungan menjadi faktor yang turut memicu benturan nilai di antara para perantau.

(rin/red)
-Advertisement-iklan
-Advertisement-iklan