![]() |
| (Doc. UB) Dosen UB menunjukkan produk sunscreen berbahan aktif limbah rambut jagung |
Penelitian tersebut dilakukan karena tingginya produksi jagung di Indonesia turut menghasilkan limbah rambut jagung dalam jumlah besar. Selama ini, limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan kerap dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.
“Pemanfaatan rambut jagung ini berangkat dari kondisi limbah pertanian yang melimpah. Selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga kami mencoba mengkaji potensinya untuk ditingkatkan nilai gunanya,” ujar Rosalina, Selasa (12/5/2026).
Dalam risetnya, tim peneliti menyoroti kandungan pigmen alami pada rambut jagung. Kandungan tersebut kemudian diuji untuk mengetahui kemampuan perlindungannya terhadap paparan sinar ultraviolet (UV).
Hasil penelitian menunjukkan rambut jagung memiliki sifat protektif karena mampu menyerap cahaya, termasuk sinar UV yang berbahaya bagi kulit.
“Dari hasil penelitian, rambut jagung terbukti memiliki kemampuan menyerap cahaya. Hal ini menjadi dasar bahwa bahan ini berpotensi digunakan sebagai komponen aktif dalam produk sunscreen,” katanya.
Menurut Rosalina, temuan ini membuka peluang pengembangan produk perawatan kulit berbasis bahan alami. Selain itu, inovasi tersebut juga dinilai mendukung konsep keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah.
Pengembangan sunscreen berbahan rambut jagung juga dinilai dapat menjadi alternatif bahan aktif ramah lingkungan di industri kosmetik dan kesehatan. Potensi tersebut dinilai relevan dengan tren penggunaan bahan alami yang terus meningkat.
Meski demikian, Rosalina menegaskan penelitian lanjutan masih diperlukan. Tahapan berikutnya akan difokuskan pada optimalisasi formulasi, efektivitas, serta keamanan penggunaan rambut jagung dalam produk komersial.
Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi langkah awal dalam mengubah limbah pertanian menjadi produk bernilai tinggi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan industri kosmetik nasional.
(zal/red)
