Harian Cendekia

FKMSB Malang Gelar Bedah Buku dalam Milad ke-23, Teguhkan Budaya Literasi di Tengah Arus Digital

(Doc. Istimewa) Diskusi bedah buku dalam rangka Milad ke-23 FKMSB Malang di Koat Kopi, Minggu (14/6/2026)
Hariancendekia.com | Di tengah derasnya arus informasi digital yang bergerak serba cepat dan budaya membaca yang semakin menghadapi tantangan zaman, Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) Malang memilih merayakan Milad ke-23 dengan cara yang sarat makna. Bukan sekadar seremoni peringatan usia organisasi, FKMSB Malang menghadirkan ruang intelektual melalui kegiatan bedah buku sebagai ikhtiar merawat tradisi literasi, menghidupkan nalar kritis, serta meneguhkan budaya membaca di kalangan mahasiswa.

Kegiatan bedah buku yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-23 FKMSB Malang tersebut digelar di Koat Kopi pada Minggu (14/6/2026). Dalam kegiatan itu, dibedah buku berjudul Gen Z dalam Pusaran Krisis: Upaya Mengikis Kesenjangan Masa Depan karya akademisi muda asal Kabupaten Sumenep, Muhammad Nafis.

Momentum milad ini menjadi penanda bahwa perjalanan 23 tahun FKMSB tidak hanya diukur dari panjangnya usia organisasi, melainkan juga dari konsistensinya dalam menanamkan nilai-nilai keilmuan, pengabdian, dan tradisi intelektual kepada setiap generasi kader. Melalui forum bedah buku, FKMSB mengajak seluruh anggota dan kader untuk kembali menjadikan membaca sebagai jalan memperluas wawasan, mempertajam cara berpikir, serta membangun kesadaran sosial yang lebih matang.

Dalam pemaparannya, Muhammad Nafis menyoroti tantangan besar yang dihadapi Generasi Z di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat. Menurutnya, persoalan utama generasi muda saat ini bukanlah kehilangan identitas, melainkan krisis arah hidup akibat melimpahnya informasi yang datang tanpa henti setiap hari.

“Generasi Z tidak kehilangan identitas. Mereka tahu siapa dirinya dan berasal dari mana. Tetapi mereka sering kehilangan arah. Mereka hidup di tengah begitu banyak informasi, opini, dan pengaruh yang datang setiap hari sehingga kesulitan menentukan tujuan hidup yang benar-benar ingin diperjuangkan,” jelas dosen Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut.

Forum yang berlangsung interaktif itu juga menghadirkan Direktur Eksekutif Civika.id, Muallifah, M.Sc., serta advokat dan pemerhati kebijakan publik, Erha Su’ud Abdullah, sebagai narasumber yang memberikan perspektif berbeda terkait tantangan generasi muda saat ini.

Muallifah menyoroti posisi perempuan di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis. Menurutnya, perempuan saat ini memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, baik di ruang publik maupun domestik.

Ia menegaskan bahwa perempuan tidak boleh kehilangan arah dan potensi dirinya setelah memasuki kehidupan rumah tangga. Relasi laki-laki dan perempuan dalam keluarga harus dibangun secara setara agar keduanya dapat tumbuh bersama dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki.

“Perempuan hari ini tidak hanya ingin dinikahi, tetapi juga ingin tetap bertumbuh. Pernikahan bukan akhir dari perjalanan perempuan, melainkan bagian dari proses aktualisasi dirinya,” ujarnya.

Sementara itu, Erha Su’ud Abdullah menyampaikan pandangan kritis mengenai kesiapan Generasi Z dalam menghadapi tantangan masa depan. Ia mempertanyakan sejauh mana kontribusi nyata generasi muda di tengah kemudahan akses teknologi dan informasi yang mereka miliki saat ini.

“Generasi Z hari ini sudah bisa apa?” tanyanya di hadapan peserta forum.

Menurut Erha, kemajuan teknologi seharusnya menjadi instrumen yang mendorong lahirnya karya, inovasi, dan solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Potensi besar yang dimiliki generasi muda tidak akan bermakna apabila tidak dibarengi keberanian mengambil peran dan tanggung jawab sosial.

“Saya belum sepenuhnya yakin terhadap Generasi Z jika potensi besar yang mereka miliki tidak diiringi dengan karya, keberanian mengambil peran, dan kemampuan menyelesaikan masalah,” tegasnya.

Menanggapi berbagai pandangan tersebut, Muhammad Nafis tetap optimistis terhadap masa depan Generasi Z. Ia menilai bahwa sejarah telah berulang kali membuktikan bagaimana anak muda menjadi motor penggerak perubahan dalam berbagai fase peradaban.

Dalam sejarah Islam, ia mencontohkan sosok Usamah bin Zaid yang dipercaya Rasulullah SAW menjadi panglima perang di usia muda. Sementara dalam sejarah Indonesia, tokoh-tokoh seperti Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Wikana, hingga para pelopor Sumpah Pemuda menunjukkan bahwa perubahan besar kerap lahir dari keberanian generasi muda membaca tantangan zamannya.

“Catatan sejarah menunjukkan bahwa anak muda bukan sekadar pelengkap peradaban. Mereka adalah motor penggerak perubahan. Karena itu saya masih yakin, bahkan haqqul yakin, bahwa Generasi Z memiliki potensi besar untuk memimpin masa depan bangsa,” katanya.

Sebagai solusi atas berbagai tantangan tersebut, Nafis menawarkan tiga hal yang perlu diperkuat oleh generasi muda, yakni kompetensi, kolaborasi, dan aksi. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak hanya mampu memahami persoalan zaman, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan yang nyata di tengah masyarakat.

“Kompetensi membuat kita mampu. Kolaborasi membuat kita kuat. Dan aksi membuat perubahan itu benar-benar terjadi,” pungkasnya.

Melalui kegiatan bedah buku ini, FKMSB Malang menunjukkan bahwa usia organisasi yang ke-23 bukan sekadar angka perjalanan waktu. Lebih dari itu, milad menjadi momentum untuk terus merawat tradisi membaca, memperkuat budaya diskusi, dan melahirkan generasi muda yang tidak hanya cakap dalam mengakses informasi, tetapi juga bijak dalam mengolah pengetahuan menjadi gagasan dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat.

(roz/red)
-Advertisement-