![]() |
| (Doc. Tangkap layar) Story akun instagram uatas.id yang memperlihatkan kegiatan seminar di Unisma Malang |
Perbincangan tersebut bermula dari unggahan akun media sosial yang menyoroti kehadiran UATAS dalam kegiatan kampus. Unggahan itu disertai narasi yang mengingatkan mahasiswa mengenai berbagai persoalan yang selama ini kerap dikaitkan dengan pinjaman online.
Reaksi publik pun bermunculan. Sebagian besar komentar bernada kritis dan mempertanyakan dampak yang dapat muncul apabila mahasiswa semakin dekat dengan akses utang digital.
Akun @manangsoebeti_official menulis, "Ya Allah bayarnya pakai apa nanti adek-adek itu buat nyicil hutang dan bunganya."
Komentar lain datang dari akun @ekoaji_p yang menyebut, "Kalau saya jadi dosen di sana sudah auto resign. Capek ngajar mahasiswa supaya masa depan mereka cerah. Eh ini manajemen kampus malah ngundang pembawa kegelapan dalam hidup."
Sementara itu, akun @medybrawny mengaitkan isu tersebut dengan kasus pembiayaan pendidikan yang pernah menjadi sorotan publik. Ia menulis, "Kisah Danacita terulang lagi."
Sebelumnya, sejumlah komentar lain juga ramai diperbincangkan. Salah satunya berbunyi, "Ngajarin mahasiswa ngutang ya min." Komentar lain menyebut, "Kampus Islam malah ngundang jagoan riba buat seminar."
Perdebatan yang muncul menunjukkan tingginya sensitivitas publik terhadap isu pinjaman online di kalangan mahasiswa. Selain menawarkan kemudahan akses dana, layanan pinjaman digital juga kerap dikaitkan dengan risiko gagal bayar, beban bunga, hingga masalah finansial jangka panjang.
Meski demikian, ramainya respons publik menunjukkan bahwa isu literasi keuangan dan penggunaan pinjaman digital di kalangan mahasiswa masih menjadi topik sensitif yang terus memicu perdebatan di ruang publik.
(*/red)
