Harian Cendekia

2 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-Diam Memicu Hormon Kortisol Naik

Ilustrasi kesulitan tidur, Foto. Hariancendekia/AI
Hariancendekia.com | Banyak orang mengira kelelahan, mudah cemas, atau sulit tidur hanya disebabkan padatnya aktivitas. Padahal, kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari bisa memicu peningkatan hormon kortisol secara berlebihan dan berdampak pada kesehatan jika terus dibiarkan.

Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang diproduksi tubuh untuk membantu menghadapi berbagai tantangan. Selain berperan dalam respons terhadap stres, hormon ini juga berfungsi mengatur kadar gula darah, metabolisme, hingga mengendalikan peradangan.

Dalam kondisi normal, kadar kortisol akan meningkat pada pagi hari untuk membantu tubuh lebih waspada saat memulai aktivitas. Memasuki malam, kadarnya seharusnya menurun agar tubuh lebih rileks dan siap beristirahat.

Namun, ritme alami tersebut dapat terganggu akibat sejumlah kebiasaan yang sering dianggap sepele.

Salah satu pemicu utamanya adalah kualitas tidur yang buruk. Kebiasaan begadang, terlalu lama bermain ponsel, atau menonton televisi hingga larut malam dapat mengganggu siklus tidur alami tubuh.

Kurang tidur secara terus-menerus membuat kadar kortisol tetap tinggi pada malam hari. Akibatnya, tubuh semakin sulit rileks sehingga kualitas tidur ikut menurun. Kondisi ini dapat menciptakan lingkaran yang membuat seseorang terus mengalami gangguan istirahat.

Selain tidur yang tidak berkualitas, stres kronis juga menjadi penyebab utama meningkatnya hormon kortisol. Tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, maupun berbagai masalah pribadi yang berlangsung dalam waktu lama membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga.

Saat stres tidak dikelola dengan baik, produksi kortisol akan tetap tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu berbagai keluhan seperti mudah merasa cemas, jantung berdebar, tubuh cepat lelah, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya.

Karena itu, menjaga keseimbangan hormon kortisol tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga perubahan gaya hidup sehari-hari.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain memenuhi kebutuhan tidur setiap malam, membatasi penggunaan gawai menjelang waktu tidur, serta menerapkan rutinitas tidur yang konsisten.

Di sisi lain, pengelolaan stres juga tidak kalah penting. Aktivitas seperti olahraga ringan, meditasi, latihan pernapasan, atau meluangkan waktu untuk melakukan hobi dapat membantu tubuh lebih rileks sehingga produksi kortisol tetap terkendali.

Menjalani pola hidup yang lebih teratur tidak hanya membantu menjaga keseimbangan hormon, tetapi juga mendukung kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh. Dengan ritme biologis yang tetap terjaga, tubuh dapat bekerja lebih optimal sekaligus mengurangi risiko munculnya berbagai masalah kesehatan di kemudian hari.

(red)