Harian Cendekia

Achsanul Qosasi Apresiasi Film FOUFO, Sebut Bahasa Madura Kini Jadi Denyut Film Nasional

(Doc. Istimewa) Achsanul Qosasi menghadiri Gala Premiere film FOUFO di Epicentrum, Jakarta
Hariancendekia.com | Tokoh Madura sekaligus Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, memberikan apresiasi tinggi terhadap film FOUFO usai menghadiri Gala Premiere di Epicentrum, Jakarta, Sabtu (3/6). Menurutnya, film komedi fiksi ilmiah karya sutradara Bayu Skak tersebut menjadi tonggak penting bagi hadirnya budaya Madura di layar lebar nasional.

Achsanul menilai FOUFO tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa identitas Madura sebagai bagian utama dari cerita. Sekitar 70 persen dialog dalam film menggunakan bahasa Madura, menjadikannya film nasional pertama yang menempatkan bahasa daerah tersebut sebagai elemen utama narasi.

"Malam ini layar bercerita tentang kita. FOUFO menaruh bahasa Madura di jantung film nasional, bukan tempelan, bukan bumbu, melainkan denyut utama cerita. Untuk pertama kalinya, anak-anak Madura mendengar bahasa ibunya berbicara dari layar bioskop dengan bangga," ujar Achsanul.

Film FOUFO mengisahkan Muslim, seorang pengepul rongsok di Kampung Rombeng yang berjuang melunasi biaya keberangkatan haji ibunya. Kehidupannya berubah setelah menemukan alien kecil bernama Foufo di reruntuhan UFO.

Tak hanya mengangkat bahasa Madura, mayoritas pemeran film ini merupakan talenta asli Madura yang terpilih melalui proses open casting di Surabaya Utara. Seleksi tersebut diikuti sekitar 2.500 peserta.

Dalam kesempatan itu, Achsanul juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, atas dukungan sejak tahap awal produksi film.

"Terima kasih kepada Pak Menteri Teuku Riefky Harsya atas dukungan yang nyata. Ini bukti bahwa negara hadir ketika daerah berkarya," katanya.

Menurut Achsanul, dukungan pemerintah menjadi sinyal positif bagi berkembangnya industri kreatif berbasis budaya daerah. Ia optimistis FOUFO akan membuka jalan lahirnya karya-karya serupa yang mampu mengangkat potensi lokal ke panggung nasional.

"Dan ini baru awal. Dari satu film akan lahir film-film lain dari satu keberanian akan tumbuh keberanian yang lain. FOUFO membuka pintu, dan tugas kita menjaga pintu itu tetap terbuka," tutupnya.

(*/red)
-Advertisement-