![]() |
| Mahasiswa KKN 07 UTM bersama warga Desa Kwanyar Barat saat praktik pembuatan dan uji coba tungku roket pembakaran sampah minim asap, Foto. Pewarta |
Ketua Kelompok KKN 07 UTM, Ian Aji Ariyanto, menjelaskan bahwa tungku roket ini dirancang khusus untuk membakar sampah secara lebih efisien dan ramah lingkungan dibanding cara pembakaran sampah konvensional yang biasa dilakukan warga di lahan terbuka.
"Selama ini warga bakar sampah asal-asalan di pekarangan, asapnya tebal dan bau, apalagi kalau sampahnya masih agak basah. Dengan tungku roket ini, pembakarannya jadi lebih sempurna karena ada sirkulasi udara yang diatur lewat desain cerobongnya, jadi asap yang keluar jauh lebih sedikit, bahkan hampir tidak terlihat," ujar Ian, Kamis (17/7).
Ian menambahkan, prinsip kerja tungku roket ini memanfaatkan pembakaran bersuhu tinggi dengan aliran udara yang terkontrol, sehingga sampah, termasuk yang biasanya sulit terbakar, dapat terurai lebih tuntas menjadi abu tanpa banyak menyisakan asap tebal maupun bau menyengat.
Proses pengenalan tungku ini dilakukan secara bertahap selama tiga hari. Hari pertama diisi dengan sosialisasi kepada warga mengenai konsep dan manfaat tungku roket, termasuk dampak buruk pembakaran sampah secara terbuka terhadap kesehatan dan lingkungan. Hari kedua dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan tungku bersama warga, mulai dari penyusunan batu bata hingga pembentukan cerobong pembakaran. Hari ketiga digunakan untuk uji coba pembakaran sampah dan evaluasi hasil bersama warga.
"Hari pertama kami edukasi dulu soal bahaya asap pembakaran sampah yang sembarangan, terutama buat kesehatan pernapasan. Hari kedua baru praktik bareng warga, susun batu bata dan bentuk cerobongnya. Hari ketiga kami uji coba langsung bakar sampah rumah tangga punya warga, dan hasilnya asapnya memang jauh berkurang dibanding dibakar biasa," kata Ian.
Kegiatan yang dipusatkan di halaman Balai Desa Kwanyar Barat ini diikuti oleh sekitar 25 warga. Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa memberikan pendampingan langsung mengenai teknik penyusunan batu bata, pembuatan lubang pembakaran, serta cara mengatur aliran udara agar sampah dapat terbakar lebih tuntas dan asap yang dihasilkan minim.
Salah satu warga yang mengikuti pelatihan,bapak ahmad, mengaku senang dengan adanya inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN tersebut. Menurutnya, selama ini ia sering merasa terganggu dengan asap tebal saat membakar sampah di pekarangan rumah.
"Biasanya kalau bakar sampah, apalagi yang masih basah, asapnya tebal banget sampai bikin sesak dan tetangga juga suka komplain. Setelah dikasih tahu dan lihat langsung tungku roket ini, ternyata asapnya jauh lebih sedikit, bahkan hampir nggak kelihatan. Sampahnya juga lebih cepat habis jadi abu," kata Suryani.
Ia berharap program pengenalan tungku roket ini dapat terus dimanfaatkan warga secara mandiri setelah masa KKN berakhir, sehingga masalah pembakaran sampah yang selama ini menimbulkan polusi asap di lingkungan permukiman dapat berkurang secara berkelanjutan. (*)
_________
*) Pewarta: Cyndifanita Bthari Marsha, Mahasiswa UTM.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
