![]() |
| Pendampingan kepada pelaku UMKM pupuk organik Saka Tani, Foto. Pewarta |
Usaha pupuk organik Saka Tani bermula dari pengalaman Bapak Sufahul ketika tanaman yang dibudidayakannya mengalami kegagalan akibat penggunaan pupuk kimia. Dari pengalaman tersebut, ia terdorong untuk mempelajari cara membuat pupuk organik cair secara otodidak. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan, seperti kotoran kambing, kotoran sapi, sisa tanaman, dan buah-buahan busuk, ia berhasil menghasilkan pupuk organik yang difermentasi menggunakan EM4 selama kurang lebih dua bulan. Pupuk tersebut dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman.
Bapak Sufahul mengatakan bahwa selama ini pupuk hasil produksinya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan sendiri dan dibagikan kepada warga sekitar yang membutuhkan. Produk juga masih dikemas dalam botol sederhana tanpa label sehingga belum memiliki identitas usaha maupun kemasan yang menarik untuk dipasarkan secara lebih luas.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN UTM Kelompok 25 melaksanakan program UMKM Next Level dengan menyerahkan sebuah banner usaha sebagai identitas resmi UMKM Saka Tani. Banner tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat mengenali usaha milik Bapak Sufahul sekaligus meningkatkan citra usahanya agar terlihat lebih profesional.
Selain itu, melalui program UMKM Go Digital, mahasiswa turut membantu meningkatkan tampilan produk dengan memberikan kemasan botol berukuran 1.000 mililiter yang dilengkapi dengan desain label produk. Kehadiran kemasan baru ini diharapkan mampu meningkatkan nilai jual produk sekaligus memberikan identitas yang lebih kuat sehingga lebih siap dipasarkan kepada masyarakat.
Pendampingan tidak berhenti pada pembaruan kemasan. Mahasiswa KKN UTM Kelompok 25 juga membuatkan akun media sosial sebagai sarana promosi digital bagi UMKM Saka Tani. Berbagai video promosi diproduksi dan diunggah untuk memperkenalkan produk dan mengajak masyarakat mengenal produk lokal Desa Bajang. Melalui langkah ini, diharapkan pemasaran produk tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar, tetapi dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Bapak Sufahul mengaku sangat terbantu dengan pendampingan yang diberikan oleh mahasiswa KKN.
"Awalnya saya membuat pupuk ini hanya untuk kebutuhan sendiri. Kalau ada tetangga atau petani yang membutuhkan, saya berikan tanpa dipungut biaya. Saya belum terpikir untuk memasarkannya secara lebih luas. Alhamdulillah, dengan bantuan adik-adik KKN, sekarang usaha saya sudah memiliki banner, kemasan yang lebih menarik, dan media sosial untuk promosi. Semoga ke depannya produk Saka Tani semakin dikenal masyarakat," ujar Bapak Sufahul.
Koordinator program UMKM KKN UTM Kelompok 25 menjelaskan bahwa kedua program tersebut saling melengkapi. UMKM Next Level difokuskan pada penguatan identitas usaha melalui banner, sedangkan UMKM Go Digital bertujuan membantu pelaku UMKM mulai memanfaatkan kemasan yang lebih menarik dan media sosial sebagai sarana pemasaran.
Melalui kedua program tersebut, mahasiswa KKN UTM Kelompok 25 berharap UMKM Saka Tani dapat terus berkembang menjadi salah satu produk unggulan Desa Bajang. Pendampingan ini diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari strategi pemasaran yang berkelanjutan. (*)
_________
*) Pewarta: Mahasiswa KKN UTM Kelompok 25.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
