Harian Cendekia

Seperempat Pekerja Indonesia Alami Overwork, Waspadai Dampaknya bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Ilustrasi pekerja dengan jam kerja berlebihan, Foto. Siloam Hospital
Hariancendekia.com | Jam kerja berlebihan masih menjadi persoalan yang dihadapi jutaan pekerja di Indonesia. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 25,47 persen pekerja menghabiskan waktu lebih dari 49 jam kerja setiap pekan. Kondisi ini bukan hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan yang tidak boleh diabaikan.

Beban kerja yang tinggi membuat fenomena overwork masih menjadi kenyataan bagi sekitar satu dari empat pekerja di Indonesia. Di sisi lain, kelompok pekerja dengan jam kerja normal, yakni 35 hingga 48 jam per minggu, masih menjadi yang terbesar dengan persentase 40,43 persen.

Sementara itu, sebanyak 32,68 persen pekerja bekerja selama 1 hingga 34 jam per minggu, sedangkan 1,42 persen tercatat tidak bekerja pada saat pelaksanaan survei.

Jika dilihat berdasarkan usia, pekerja berusia 35–44 tahun menjadi kelompok yang paling banyak mengalami jam kerja berlebihan. Jumlahnya mencapai sekitar 9,5 juta orang. Posisi berikutnya ditempati kelompok usia 25–34 tahun dengan sekitar 8,71 juta pekerja, disusul kelompok usia 45–54 tahun yang mencapai 8,38 juta orang.

Di balik tingginya jam kerja tersebut, terdapat konsekuensi serius bagi kesehatan. Bekerja terlalu lama dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga seseorang lebih mudah terserang penyakit. Selain itu, overwork juga berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, seperti stres berkepanjangan, kecemasan, hingga depresi.

Tidak hanya itu, pekerja yang mengalami overwork juga rentan mengalami brain fog atau penurunan konsentrasi, gangguan tidur, tekanan darah tinggi, jantung berdebar, perubahan berat badan, hingga pola makan yang tidak teratur. Risiko kecelakaan kerja pun meningkat akibat kelelahan yang terus menumpuk.

Salah satu penyebab utama dampak tersebut adalah meningkatnya produksi hormon kortisol atau hormon stres. Ketika tubuh terus-menerus berada dalam kondisi tertekan, stres dapat berubah menjadi kronis dan mengganggu metabolisme, kadar gula darah, serta sistem kekebalan tubuh.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu berbagai penyakit serius, mulai dari hipertensi, sakit kepala kronis, gangguan pencernaan, gangguan kecemasan, hingga penyakit jantung, serangan jantung, stroke, dan gangguan tidur berkepanjangan.

Karena itu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi langkah penting untuk mencegah dampak buruk overwork. Istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta mengelola stres dengan baik dapat membantu menjaga kesehatan sekaligus mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.

(red)