Harian Cendekia

Tim UB Olah Limbah Salak Jadi Baglog Jamur dan Teh Herbal di Pronojiwo Lumajang

Tim MMD-DM Universitas Brawijaya mengolah limbah salak menjadi produk bernilai ekonomi di Desa Pronojiwo, Lumajang, Foto. Istimewa
Hariancendekia.com | Tim program Mahasiswa Membangun Desa–Doktor Mengabdi (MMD-DM) Universitas Brawijaya (UB) memanfaatkan limbah salak menjadi campuran media tanam jamur dan teh herbal di Desa Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Inovasi tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas salak yang menjadi salah satu sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

Ketua Program MMD-DM UB, Prof. Dhiana Puspitawati, S.H., LL.M., Ph.D., mengatakan daun salak kering dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan pembuatan baglog atau media tanam jamur.

“Daun salak yang sudah kering ini bisa dimanfaatkan sebagai media campuran baglog jamur, atau media tanam jamur,” kata Dhiana.

Selama ini, baglog jamur umumnya menggunakan serbuk kayu sebagai salah satu bahan utama. Menurut Dhiana, daun salak memiliki kandungan yang dapat mendukung pertumbuhan jamur.

Limbah daun salak mengandung selulosa dan lignin. Selulosa dapat menjadi sumber karbon setelah diuraikan oleh enzim selulase dari jamur, sedangkan lignin dapat dipecah untuk menunjang pertumbuhan miselium.

“Jamur biasanya memiliki kemampuan untuk menguraikan tanaman yang kaya akan lignin. Oleh karena itu, limbah daun salak kering ini berguna sebagai media yang diuraikan oleh enzim jamur yang menjadi nutrisi bagi jamur itu sendiri untuk mendukung pertumbuhan miselium,” ujarnya.

Selain daun, tim MMD-DM UB juga memanfaatkan kulit salak sebagai bahan teh herbal. Kulit salak yang selama ini kerap dibuang setelah buah dikonsumsi diolah menjadi produk yang berpotensi memiliki nilai tambah.

Dhiana menyebut kulit salak mengandung antioksidan. “Kulit salak memiliki antioksidan, dia juga bisa mengontrol kadar gula darah yang ada di tubuh,” ucapnya.

Dalam proses pengolahannya, kulit salak disangrai bersama serai untuk mengurangi aroma langu sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih nyaman dikonsumsi.

Kepala Desa Pronojiwo, Murdiono, mengatakan komoditas salak memiliki peran penting dalam perekonomian masyarakat desa.

“80 persen penduduk Pronojiwo memiliki kebun salak, dan itu jadi mata pencaharian mereka,” kata Murdiono.

Besarnya aktivitas perkebunan salak juga menghasilkan limbah daun dan kulit dalam jumlah yang tidak sedikit. Melalui pelatihan pengolahan limbah tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan produk bernilai ekonomi sekaligus mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.

(red)