![]() |
| Gempa Besar NTT, 5 Ribu Warga Berada di Pengungsian, Foto. Kemensos |
Hariancendekia.com | Gempa yang tidak menimbulkan luka fisik bukan berarti penyintas terbebas dari risiko kesehatan. Beberapa hari setelah bencana, pneumonia dapat muncul, terutama di pengungsian yang padat dengan sanitasi dan akses air bersih terbatas.
Pneumonia merupakan infeksi paru yang membuat kantung udara atau alveoli terisi cairan dan nanah. Kondisi ini dapat menyebabkan batuk, demam, lemas, sesak napas, hingga nyeri dada.
Risiko tersebut dapat meningkat setelah gempa ketika penyintas harus tinggal di tempat pengungsian. Banyak orang tidur dan beraktivitas dalam ruang yang sama, sementara ventilasi, kebersihan, dan fasilitas air bersih belum tentu memadai.
Kepadatan pengungsian dan keterbatasan sanitasi dapat mempercepat penyebaran penyakit menular, termasuk infeksi saluran pernapasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan bahwa permukiman sementara yang padat dan terganggunya layanan kesehatan menjadi risiko penting pada minggu-minggu setelah gempa.
Pengalaman bencana di Jepang menunjukkan besarnya risiko tersebut. Setelah gempa dan tsunami Tohoku 2011, sebuah studi multisenter mencatat rawat inap akibat pneumonia meningkat 5,7 kali lipat selama tiga bulan setelah bencana.
Pada periode yang sama, kematian terkait pneumonia meningkat 8,9 kali lipat. Menariknya, hanya 3,6 persen pasien pneumonia pascabencana yang mengalami kondisi hampir tenggelam akibat tsunami.
Risiko lain perlu diperhatikan pada lansia, khususnya pneumonia aspirasi. Kondisi ini terjadi ketika makanan, minuman, air liur, atau material dari mulut masuk ke saluran napas dan membawa mikroorganisme ke paru-paru.
Situasi di pengungsian dapat memperbesar risiko tersebut. Pada lansia, penurunan kebersihan mulut, aktivitas fisik, asupan makanan, serta gangguan makan dan menelan setelah bencana dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pneumonia aspirasi.
Studi lain setelah gempa dan tsunami Tohoku menemukan kasus pneumonia meningkat sekitar dua hingga tiga kali lipat. Sekitar separuh kasus pneumonia komunitas berasal dari tempat pengungsian, yang dikaitkan dengan kepadatan, kondisi tempat tinggal, serta keterbatasan sumber daya dasar.
Gejala pneumonia antara lain batuk, demam atau menggigil, sesak napas, kelelahan, dan nyeri dada. Pada lansia, kebingungan juga dapat menjadi tanda penyakit.
Karena itu, penyintas yang tidak mengalami cedera tetap perlu memantau kondisi tubuh selama beberapa hari setelah gempa. Batuk yang disertai demam dan sesak, terutama pada lansia, anak kecil, atau orang dengan penyakit kronis, perlu segera dievaluasi secara medis.
Gempa mungkin hanya berlangsung beberapa detik atau menit. Namun, dampak kesehatannya dapat berlanjut jauh setelah guncangan berhenti.
(zal/red)
