![]() |
| Ilustrasi mahasiswa mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, Foto. Istimewa |
Hariancendekia.com | LPEM FEB UI mengungkap lima bidang studi yang paling banyak ditemukan di kalangan pengangguran lulusan S1 di Indonesia. Data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan manajemen berada di urutan teratas dengan porsi 10,3%.
Temuan tersebut tertuang dalam laporan LPEM FEB UI berjudul Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap? Laporan itu disusun Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholihah.
Lima bidang studi tersebut secara kumulatif mencakup sekitar 40% dari total pengangguran berpendidikan minimal S1.
Berikut rinciannya, mengutip detikEdu, Minggu (6/9/2026):
- Manajemen: 10,3%
- Hukum: 9,0%
- Ekonomi: 8,7%
- Pendidikan: 7,1%
- Akuntansi: 5,1%
LPEM FEB UI menegaskan angka itu bukan tingkat pengangguran masing-masing jurusan. Artinya, data tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa lulusan kelima bidang studi itu memiliki prospek kerja paling buruk.
Untuk mengukur risiko pengangguran, jumlah pengangguran dari suatu bidang studi harus dibandingkan dengan total angkatan kerja lulusan bidang studi yang sama.
Tingginya porsi sejumlah bidang studi tersebut antara lain berkaitan dengan cakupan program studi yang luas dan besarnya jumlah lulusan. Manajemen, misalnya, memiliki pilihan karier di bidang organisasi, pemasaran, keuangan, sumber daya manusia hingga pengelolaan aset.
Namun, luasnya pilihan pekerjaan tidak otomatis membuat lulusan lebih mudah terserap. Pada posisi awal, lulusan bisnis harus bersaing dengan lulusan hukum, ekonomi, komunikasi, dan bidang lainnya.
Bidang pendidikan juga menghadapi tantangan tersendiri. Penyerapan lulusannya dipengaruhi pola rekrutmen guru, kebutuhan sekolah di daerah, ketersediaan formasi, serta persyaratan profesi.
Menariknya, ilmu komputer atau informatika juga mencatat porsi sekitar 4,6% di antara pengangguran berpendidikan minimal S1. Padahal, bidang teknologi informasi selama ini dikenal memiliki prospek kerja menjanjikan.
Selain pengangguran, LPEM FEB UI menyoroti fenomena overeducation. Sekitar 8 juta lulusan sarjana disebut bekerja pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat pendidikan lebih rendah dari yang mereka miliki.
Kondisi itu menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja terdidik berpotensi lebih cepat dibandingkan penciptaan pekerjaan berketerampilan tinggi. Karena itu, penambahan kapasitas perguruan tinggi dinilai perlu diiringi penguatan mutu pendidikan, keterhubungan dengan dunia kerja, dan penciptaan lapangan kerja profesional. (Red)
