Harian Cendekia

Tiga Kasus Pembegalan dalam Dua Minggu, HMI Teknik UTM Kecam Kinerja Polres Bangkalan

Muhammad Gufron, Anggota PTKP HMI Komisariat Teknik UTM, Foto. Istimewa
Hariancendekia.com | Keamanan di lingkungan Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menjadi sorotan setelah dilaporkan terjadi tiga kasus pembegalan dalam kurun waktu kurang dari dua minggu. Rentetan kejadian tersebut menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa dan memunculkan desakan agar aparat penegak hukum segera mengambil langkah konkret untuk menjamin keamanan di sekitar lingkungan kampus.

Situasi ini menjadi perhatian serius mengingat keamanan merupakan salah satu aspek penting dalam menunjang aktivitas akademik mahasiswa. Mahasiswa seharusnya dapat menjalankan kegiatan perkuliahan maupun organisasi dengan aman tanpa dihantui kekhawatiran terhadap ancaman tindak kriminal, khususnya ketika melintasi kawasan kampus pada malam hari.

Anggota PTKP HMI Komisariat Teknik UTM, Gufron, mengecam lemahnya jaminan keamanan apabila rentetan kejadian tersebut tidak segera direspons melalui langkah penanganan yang konkret. Gufron mendesak Polres Bangkalan untuk menunjukkan keseriusan dalam menangani kasus pembegalan, mengusut tuntas setiap kejadian, serta meningkatkan patroli di wilayah yang berpotensi menjadi titik rawan kejahatan.

“Kami mengecam apabila penanganan persoalan keamanan ini tidak dilakukan secara serius dan maksimal. Tiga kasus pembegalan dalam waktu kurang dari dua minggu bukan persoalan yang bisa dianggap sepele. Kami mendesak Polres Bangkalan untuk segera mengambil langkah nyata, mengungkap pelaku, serta memastikan keamanan mahasiswa di lingkungan UTM. Jangan sampai mahasiswa terus dihantui rasa takut ketika hendak menuntut ilmu,” tegas Gufron.

Menurut Gufron, persoalan keamanan tidak cukup dijawab dengan imbauan agar mahasiswa lebih berhati-hati. Diperlukan langkah preventif dan penegakan hukum yang jelas, termasuk peningkatan intensitas patroli, pemetaan lokasi rawan kejahatan, serta koordinasi antara kepolisian dan pihak universitas. Kejelasan informasi mengenai perkembangan penanganan kasus juga diperlukan agar mahasiswa memperoleh kepastian dan tidak terus berada dalam keresahan.

Gufron juga mendesak pihak Universitas Trunodjoyo Madura untuk turut bertanggung jawab dalam upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman. Evaluasi sistem keamanan, peningkatan penerangan di akses jalan, serta penyediaan saluran pengaduan yang responsif perlu menjadi perhatian agar potensi tindak kriminal dapat dicegah dan keselamatan mahasiswa lebih terjamin.

“Kampus seharusnya menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk belajar, berorganisasi, dan mengembangkan diri, bukan tempat yang membuat mahasiswa merasa terancam. Kami meminta Polres Bangkalan dan pihak kampus tidak saling menunggu dalam menyelesaikan persoalan ini. Harus ada koordinasi dan tindakan nyata sebelum muncul korban berikutnya,” tambah Gufron.

Rentetan dugaan pembegalan tersebut menjadi peringatan bahwa keamanan mahasiswa membutuhkan perhatian dan penanganan serius dari seluruh pihak terkait. Polres Bangkalan diharapkan segera melakukan penyelidikan dan meningkatkan upaya pencegahan, sementara pihak universitas perlu memperkuat sistem keamanan di lingkungan kampus dan akses di sekitarnya.

Mahasiswa bukan hanya membutuhkan jaminan keamanan secara administratif, melainkan juga tindakan nyata yang dapat dirasakan secara langsung. Oleh karena itu, penanganan kasus pembegalan di sekitar UTM harus menjadi prioritas bersama demi menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan terbebas dari ancaman tindak kriminal. (Red)

Punya gagasan, atau informasi menarik di sekitar Anda? Kirimkan sekarang

Kirim Tulisan