Harian Cendekia

Bibit-bibit Prabowo ala UNISMA

Bibit-Bibit Prabowo ala UNISMA, Foto. Penulis
Opini, Hariancendekia.com | Integritas dan kepekaan sosial mahasiswa kini telah bergeser menjadi mitos baru. Status "penyambung lidah rakyat" yang dahulu dipuja sebagai pembebas kini justru menjadi benteng kepalsuan yang melahirkan ketidakpedulian massal. Di tengah himpitan dan penindasan yang dialami masyarakat Indonesia saat ini, mahasiswa justru memilih diam dan menutup mata.

Di dalam wacana gerakan kemahasiswaan dari tingkat BEM-U maupun DPM-U pusat hingga ke akar rumput di ruang-ruang kuliah selalu ditawarkan gagasan idealis tentang kepedulian sosial, pembelaan terhadap kaum tertindas, dan pengabdian masyarakat. Sisi komunikatif dan empati ini diklaim selalu ada di dalam jiwa akademis. Jika nilai ini dirawat, keberanian mahasiswa seharusnya menjadi jalan keluar dari krisis kemanusiaan dan kezaliman kekuasaan di sekitarnya. Suara mahasiswa dianggap sebagai benteng terakhir rakyat yang ditindas.

Namun, realitas di UNISMA menunjukkan bahwa narasi penderitaan rakyat itu hanya menjadi hiasan retorika. Pengaruh kekuasaan birokrasi, rasa aman personal, dan sikap apatis tidak pernah bisa dilepaskan dari tubuh mahasiswa. Narasi pembelaan rakyat terasa menarik secara teoritis di dalam ruang diskusi dan seminar. Namun, ketika masyarakat di luar sana digusur, korban bencana ditelantarkan, hak-hak buruh dirampas, dan kebebasan sipil dipasung, seluruh elemen mahasiswa dari pengurus organisasi tertinggi hingga mahasiswa biasa tetap tunduk pada cengkraman kenyamanan pribadi dan aturan kampus. Mereka lebih sibuk mengejar target pabrik angka, angka Indikator Kinerja Utama, dan indeks prestasi ketimbang mendengarkan jeritan masyarakat.

Sikap diam dan abai ini menampilkan kemiripan yang mencolok dengan watak kepemimpinan Prabowo Subianto. Di level struktur tertinggi organisasi, elite mahasiswa mengadopsi watak otoriter yang alergi pada aksi nyata. Kritik serta dorongan turun ke jalan dibungkam atas nama "stabilitas," persis seperti kekuasaan militeristik yang membungkam suara rakyat demi ketertiban buatan. Elite BEM dan DPM sibuk bersolek dalam kompromi politik internal kampus, meniru gaya kompromi pragmatis Prabowo yang rela melipat idealisme demi mengamankan panggung dan posisi di hadapan elite penguasa.

Di tingkat akar rumput, ketidakpedulian itu mewujud dalam bentuk pembenaran dan kenaifan. Ketika rakyat ditindas, mahasiswa biasa di akar rumput sibuk merasionalisasi sikap diam mereka. Mereka diajarkan untuk membenarkan tindakan pasif para pemimpin organisasinya, sebagaimana pendukung fanatik memoles dan membenarkan setiap tindakan penguasa yang mengabaikan hak-hak rakyat. Narasi keberhasilan akademis dijadikan topeng untuk menutupi ketakutan dan hilangnya empati. Di balik almamater, mereka membentuk mentalitas yang dingin terhadap penderitaan sesama.

Melihat fenomena ini, kita dipaksa untuk bersikap sinis terhadap jargon "maha-siswa" yang terus digaungkan. Terlalu banyak kepalsuan yang terkandung di dalamnya. Ketika penderitaan rakyat yang ditindas hanya dianggap sebagai angin lalu dan dikalahkan oleh kesibukan berburu nilai serta posisi, integritas itu sesungguhnya telah musnah. UNISMA pada akhirnya bukan lagi tempat menyemaikan penentang kezaliman, melainkan tempat menumbuhkan bibit-bibit penguasa dingin berwatak Prabowo calon pejabat yang bisu di hadapan penindasan, namun selalu pandai mencari pembenaran atas ketakutan dan kompromi moral mereka sendiri. (*)
_________
*) Penulis: Muhammad Fatih Abdillah.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.

Punya gagasan, atau informasi menarik di sekitar Anda? Kirimkan sekarang

Kirim Tulisan