![]() |
| Bendera Greenpeace di Bundaran HI, Foto. Istimewa |
Opini, Hariancendekia.com | Kita hidup di negara yang kaya akan sumber daya alam. Namun, ironisnya, masih banyak masyarakat yang harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bencana terjadi di berbagai daerah, lingkungan semakin terancam, sementara harga bahan pokok terus menjadi beban bagi masyarakat kecil. Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat harus bertahan dalam keadaan seperti ini?
Aksi Greenpeace di Bundaran HI dengan membawa tulisan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tentang kerusakan hutan atau bencana yang datang silih berganti. Dampaknya juga dirasakan hingga ke meja makan masyarakat. Ketika cuaca ekstrem mengganggu produksi pertanian dan distribusi pangan, harga kebutuhan pokok pun dapat meningkat.
Masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka yang berpenghasilan pas-pasan harus kembali menghitung pengeluaran, mengurangi kebutuhan lain, bahkan memutar otak agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Bagi sebagian orang, kenaikan harga mungkin hanya berupa angka di pasar. Namun, bagi masyarakat berpenghasilan terbatas, kenaikan tersebut dapat menentukan apakah kebutuhan sehari-hari masih dapat terpenuhi atau tidak.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak cukup hanya hadir melalui pernyataan dan janji. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata, mulai dari penanganan bencana yang cepat, perlindungan lingkungan, pengawasan distribusi pangan, hingga kebijakan yang mampu menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa upaya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat, bukan sekadar tercermin dalam angka-angka.
Namun, persoalan ini tidak berarti bahwa seluruh kenaikan harga disebabkan oleh satu faktor atau semua bencana dapat dicegah sepenuhnya. Ada berbagai faktor yang saling berkaitan, seperti cuaca, distribusi, biaya produksi, dan kondisi ekonomi. Justru karena persoalannya kompleks, penanganannya harus dilakukan secara serius, terencana, dan berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, rakyat tidak hanya membutuhkan janji tentang kesejahteraan, tetapi juga bukti bahwa kesejahteraan itu benar-benar hadir dalam kehidupan mereka. Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar gedung yang semakin tinggi atau angka ekonomi yang terus bertumbuh, melainkan kemampuan masyarakat untuk hidup dengan aman, mendapatkan lingkungan yang layak, dan membeli kebutuhan pokok tanpa terus-menerus merasa terbebani.
Jangan sampai masyarakat harus menghadapi dua kesulitan sekaligus: ketakutan ketika bencana datang dan kecemasan ketika melihat harga kebutuhan sehari-hari. Sebab, ketika lingkungan rusak dan biaya hidup semakin menekan, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi ekonomi, tetapi juga hak masyarakat untuk hidup layak.
Bencana adalah peringatan, kenaikan harga adalah kenyataan yang dirasakan rakyat, dan kebijakan pemerintah harus menjadi jawaban nyata atas keduanya. (*)
_________
*) Penulis: Putri Haerun Nisa, Kader PMII Rayon Al-Kindi Unisma.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
