Harian Cendekia

Kacamata Baperisasi dalam Organisasi

Oleh: Salma Hamida Fitra Aulia, Calon Kader PK IPPNU UNISMA
Opini, Hariancendekia.com | Tanpa jiwa, organisasi akan menjadi sebentuk penjajahan atas manusia. Orang dipaksa untuk patuh, tanpa tahu, mengapa ia harus patuh. Ia dipaksa untuk berpikir dan bertindak seperti orang-orang lainnya di dalam organisasi. Inilah salah satu bahaya organisasi.

Contoh dari organisasi semacam ini dapat ditemukan dalam praktik "baperisasi" sebuah metode penjaringan anggota yang sengaja mengeksploitasi dan mempermainkan emosi calon anggotanya. Calon anggota didekati bukan dengan rasionalitas, visi intelektual, atau program kerja yang transparan, melainkan dengan manipulasi sentimen kekeluargaan semu, ancaman rasa bersalah, dan pelabelan emosional. Mereka dibuat merasa berdosa atau dikucilkan jika tidak bergabung, atau diikat oleh hutang budi yang diciptakan secara artifisial sejak awal rekrutmen. Akhirnya, organisasi kehilangan orientasi objektifnya dan berubah menjadi mesin penjinak jiwa yang menuntut loyalitas tanpa reserve.

Dalam dinamika ini, ruang-ruang perdebatan rasional secara sistematis dibungkam oleh jargon-jargon solidaritas yang menyesatkan. Siapa pun yang mencoba mempertanyakan efektivitas kerja, transparansi anggaran, atau orientasi gerakan akan langsung dicap sebagai pengkhianat atau pihak yang kurang memiliki jiwa korsa. Emosi diletakkan di atas nalar, dan air mata kerap dijadikan instrumen legitimasi kekuasaan senior atas kader baru.

Cara-cara semacam ini melahirkan mentalitas kawanan yang rapuh secara moral. Ketika seseorang masuk melalui pintu baperisasi, ia tidak sedang membangun kesadaran kolektif yang matang, melainkan sedang menyerahkan otonomi mentalnya kepada otoritas kelompok. Ikatan yang terbentuk bukan di atas fondasi gagasan yang kokoh, melainkan di atas rasa takut kehilangan penerimaan sosial dari lingkungan terdekatnya yang baru.

Namun, sekali lagi perlu ditekankan, bahwa organisasi selalu berarti dua hal, yakni organisasi kelompok dan organisasi diri. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Ketika organisasi kelompok lebih kuat terutama yang digerakkan oleh budaya baperisasi dan kultus individu maka peluang eksploitasi psikologis dan konformitas ekstrem akan semakin besar.

Dominasi organisasi kelompok yang toksik sering kali mengubur potensi kreatif individu di dalamnya. Manusia direduksi sekadar menjadi alat produksi atau penyorak setia yang siap membebek tanpa pernah diajak menguji gagasan secara mendalam. Akibatnya, lahir generasi pengikut yang tidak tahan uji, mudah panik ketika menghadapi kritik eksternal, dan gagap dalam merumuskan solusi nyata bagi persoalan publik.

Untuk mengimbangi bahaya tersebut, organisasi diri mengandaikan satu hal yang amat penting, yakni kebebasan diri untuk berpikir dan membuat keputusan secara jernih di tengah tekanan kelompok yang manipulatif. Individu harus mampu merawat otonomi batinnya, menyaring setiap doktrin yang masuk, dan menolak tunduk pada hegemoni psikologis yang menyamar sebagai kebersamaan.

Tanpa kemandirian organisasi diri ini, seseorang akan mudah terseret arus dan menjadi bagian dari rantai penindasan terselubung di dalam organisasinya sendiri. Ia akan menikmati kenyamanan semu di dalam kepompong emosional, sementara di luar sana, organisasinya menjelma menjadi entitas yang tumpul dan kehilangan sensitivitas sosialnya.

Dengan kebebasan ini, orang tidak akan pernah terpenjara di dalam organisasi. Ia akan bisa membangun hubungan yang sehat antara diri pribadinya dengan organisasinya. Ia bisa bekerja sama, tanpa menjadi patuh buta pada rekayasa emosi. Ia bisa berpikir kritis dan mengajukan pertanyaan, tanpa menjadi perusak kebersamaan, serta menolak segala bentuk rekrutmen yang merendahkan akal sehat manusia. (*)
_________
*) Penulis: Salma Hamida Fitra Aulia, Calon Kader PK IPPNU UNISMA.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.

Punya gagasan, atau informasi menarik di sekitar Anda? Kirimkan sekarang

Kirim Tulisan