![]() |
| Kepala BGN Sudaryono, Foto. Kompas |
Hariancendekia.com | Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menilai keterlibatan siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan merupakan bagian dari edukasi. Ia heran praktik siswa mencuci ompreng justru menuai kritik di media sosial.
Sudaryono mengatakan, pelibatan siswa dalam kegiatan tersebut bertujuan memberikan pengalaman sekaligus edukasi. Menurut dia, praktik serupa juga diterapkan di sejumlah negara, termasuk China.
“Sekarang kan di medsos ramai, ‘wah ini kok anak-anak dilibatkan’. Ya, memang begitu bagian dari edukasi kita. Kalau kita lihat di banyak negara begitu,” ujar Sudaryono di Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Ia kemudian membandingkan respons masyarakat terhadap praktik di luar negeri dan di Indonesia. Sudaryono menilai munculnya kritik terhadap siswa yang mencuci ompreng berbeda dengan kekaguman warganet terhadap praktik serupa di China.
“Bahkan, kalau kita lihat di medsos juga, orang kagum sama MBG di China di mana anaknya nyuci ompreng. Sementara di sini dihujat kok nyuci ompreng,” kata dia.
Sudaryono menjelaskan, konsep prasmanan dalam program MBG merupakan hasil pembelajaran dari praktik negara lain yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.
Meski demikian, penerapannya di seluruh sekolah tidak bisa dilakukan secara otomatis. Menurut dia, pelaksanaan konsep tersebut membutuhkan persetujuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pihak sekolah.
Persiapan dapur serta tambahan pekerjaan dalam pelaksanaan menjadi sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan sebelum konsep prasmanan diterapkan.
Dengan demikian, pelibatan siswa dalam MBG masih perlu disesuaikan dengan kesiapan masing-masing sekolah, termasuk memastikan kegiatan yang dilakukan benar-benar mendukung edukasi tanpa mengabaikan aspek kebersihan dan keamanan pangan. (Red)
