![]() |
| (Doc. Pewarta) Peserta Girls Speak Movie Forum berfoto bersama usai diskusi film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di Ciputat. |
Ketua Umum KOHATI Komfaksy, Shada Nida, menyampaikan bahwa perempuan hingga hari ini masih hidup dalam realitas sosial yang kerap menormalisasi kekerasan. Menurutnya, forum ini bukan sekadar agenda peringatan simbolik.
“Girls Speak Movie Forum menjadi ruang jeda, tempat kita merenung, mendengar, dan berani bertanya, mengapa suara perempuan masih harus terus diperjuangkan?” ujar Shada.
Pemilihan film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak bukan tanpa alasan. Film ini menghadirkan narasi sunyi yang justru berbicara lantang tentang luka, kemarahan, dan harapan perempuan. Dalam ruang gelap pemutaran, peserta diajak berhadapan dengan kenyataan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan kisah yang jauh, melainkan nyata dan terus berulang dalam berbagai bentuk.
Forum ini tidak berhenti pada aktivitas menonton. Ia tumbuh menjadi ruang perlawanan, tempat perempuan saling menguatkan suara, pengalaman, dan luka yang selama ini sering dipinggirkan. Marlina tidak ditampilkan sebagai korban yang pasrah, melainkan sebagai perempuan yang dipaksa memilih jalan keras akibat sistem yang abai, hukum yang terasa jauh, dan masyarakat yang kerap menyalahkan korban.
Dalam kesunyian lanskap Sumba yang luas, film ini justru memperlihatkan bagaimana perempuan sering diminta diam, menerima, dan menanggung kekerasan sendirian.
Diskusi dipantik oleh Tanaya Tabina Maritza (KOHATI Komfaksy) dan Khayla Angraini (KOHATI Kafeis). Tanaya menekankan bahwa kemarahan Marlina bukanlah kejahatan, melainkan respons atas ketidakadilan struktural.
Ia menegaskan, ketika negara dan masyarakat gagal melindungi perempuan, keberanian perempuan untuk melawan justru kerap dipersoalkan.
Sementara itu, Khayla menyoroti “sunyi” yang dialami korban kekerasan seksual sunyi karena tidak dipercaya, sunyi karena takut, dan sunyi karena keadilan terasa terlalu jauh. Marlina, baginya, merepresentasikan banyak perempuan yang dipaksa memikul trauma sendirian, sementara pelaku kerap luput dari pertanggungjawaban.
Diskusi berkembang menjadi ruang berbagi kegelisahan dan pengalaman. Peserta mengaitkan film dengan realitas kekerasan terhadap perempuan yang masih marak terjadi di ranah domestik, kampus, tempat kerja, hingga ruang publik. Forum ini menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan persoalan personal semata, melainkan persoalan sosial dan struktural yang menuntut keberpihakan bersama.
Lebih dari sekadar peringatan HAKTP, Girls Speak Movie Forum menjadi ruang menyalakan harapan-harapan agar perempuan tidak lagi dibungkam atas nama norma, agar suara korban tidak dipatahkan oleh stigma, dan agar keberanian perempuan tidak lagi dipandang sebagai ancaman.
Melalui film dan keberanian untuk berbicara, forum ini menegaskan satu hal penting, ketika perempuan bersuara, dunia seharusnya belajar mendengar. Melawan kekerasan bukan hanya soal menghentikan luka, tetapi tentang membangun ruang aman agar setiap perempuan dapat hidup tanpa rasa takut dan tanpa harus terus membuktikan bahwa penderitaannya layak dipercaya. (*)
__________
*) Pewarta: Moh. Ghufron.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
