![]() |
| (Doc. Humas NJ) Kepala Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid menyampaikan sambutan pada peringatan Harlah ke-77 dan Haul Masyayikh. |
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, dalam sambutannya di hadapan keluarga besar pesantren dan para undangan. Ia menyatakan bahwa usia 77 tahun merupakan momentum strategis untuk mengimplementasikan tema besar pesantren, yakni “Dari Tradisi ke Transformasi”.
Menurutnya, transformasi tersebut tetap berpijak pada prinsip klasik pesantren, Al-muhafazhatu ‘alal qadimi al-shalih, wal akhdzu bil jadidi al-aslah, yakni menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
“Nurul Jadid tidak hanya menjaga warisan intelektual masa lalu, tetapi juga bertransformasi mengambil tradisi baru yang membawa maslahat bagi agama, bangsa, dan masyarakat,” ujar KH. Abdul Hamid Wahid.
Untuk mewujudkan visi sebagai lembaga pendidikan Islam yang unggul, Kiai Hamid menjelaskan bahwa arah transformasi pesantren telah dituangkan secara sistematis dalam Rencana Induk Pesantren (RIP) 2021–2040. Transformasi tersebut bertumpu pada empat pilar utama manajemen, yaitu pendidikan berkualitas tinggi, sumber daya manusia yang kompeten dan profesional, kemandirian pendanaan organisasi, serta sarana dan prasarana yang representatif.
Salah satu capaian konkret yang menjadi sorotan adalah keberhasilan Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menerapkan standar manajemen internasional. Saat ini, pesantren tersebut telah mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu dan ISO 21001:2018 tentang Manajemen Organisasi Pendidikan.
Penerapan standar internasional ini, lanjut Kiai Hamid, bertujuan memastikan seluruh layanan pendidikan dan dakwah berjalan secara transparan, akuntabel, serta berorientasi pada santri sebagai pusat pembelajaran.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keunggulan pesantren harus bersifat holistik. Ada keseimbangan antara kekuatan moralitas dan intelektualitas dengan tata kelola profesional yang modern,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, KH. Abdul Hamid Wahid menginstruksikan seluruh pengelola dan keluarga besar pesantren untuk menginternalisasi nilai Panca Kesadaran dan Trilogi Santri ke dalam sistem kerja sehari-hari. Ia menegaskan bahwa kedisiplinan dalam menjalankan Standard Operating Procedure (SOP) merupakan wujud pengabdian profesional di era modern.
Dengan optimisme tinggi, Kiai Hamid menyatakan Pondok Pesantren Nurul Jadid siap melangkah menjadi “Mercusuar Peradaban” yang mampu mencetak generasi unggul, berdaya saing, dan berkontribusi bagi kesejahteraan umat, baik di dunia maupun di akhirat. [rin/roz]
