zmedia

Mahasiswa BSI UMM Pentaskan Dua Lakon Kontras dalam Teater Penyutradaraan, Angkat Isu Pengkhianatan dan Kesetiaan

(Doc. Istimewa) Mahasiswa BSI UMM tampil dalam pementasan teater mata kuliah Penyutradaraan di Lorong Masjid AR Fachruddin, UMM.
HARIANCENDEKIA, MALANG - Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mementaskan dua lakon teater bertema kontras dalam mata kuliah Penyutradaraan pada 11–12 Januari 2026 di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM, sebagai bentuk luaran akademik sekaligus ruang eksplorasi artistik mahasiswa.

Pementasan tersebut menghadirkan dua naskah berbeda dalam dua hari berturut-turut. Hari pertama menampilkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna, sementara hari kedua menyuguhkan “Orang Kasar” karya Anton Chekov yang disadur oleh W.S. Rendra.

Pada hari pertama, “Lakon Elegi Musim Panas” mengangkat kisah Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Hubungan tersebut ternyata merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Perempuan yang menjadi korban manipulasi itu akhirnya mengalami kebangkrutan sekaligus keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa cinta yang ia jalani hanyalah tipu daya.

Lakon ini dibangun dengan atmosfer emosional yang intens, menonjolkan tema pengkhianatan, manipulasi, dan kehancuran perasaan. Konflik yang perlahan terkuak membuat penonton larut dalam ketegangan hingga akhir pertunjukan.

Sementara itu, pada hari kedua, “Orang Kasar” menghadirkan nuansa yang lebih dinamis dengan sentuhan komedi dan ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi.

Dalam perjalanannya, kehadiran Bilal justru menumbuhkan perasaan cinta di antara keduanya. Sang nyonya pun berada dalam dilema antara kesetiaan terhadap masa lalu dan perasaan baru yang tumbuh. Adegan-adegan komikal yang dibangun dari gengsi dan kecanggungan dua tokoh membuat penonton menunjukkan reaksi emosional hingga akhir pertunjukan.

Pembina mata kuliah Penyutradaraan, Dr. Hari Sunaryo, M.Si., menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa untuk memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara.

“Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa proses tersebut menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan.

“Karena itu, penting untuk tetap mengusung nilai-nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi. Semua ini menjadi pelajaran berharga ketika menyutradarai—sebagai pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., yang menilai proses panjang selama produksi turut membentuk kualitas permainan aktor di atas panggung.

“Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya,” tuturnya.

Menurutnya, plot twist yang dihadirkan dalam kedua lakon justru menjadi kekuatan pementasan.

“Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu artinya para aktor berhasil menyesuaikan diri dalam mendalami setiap perannya,” lanjut Isnaini.

Ia berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif. Menurutnya, pertunjukan teater memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa setelah lulus, khususnya bagi mereka yang akan terjun ke dunia kerja yang berkaitan dengan akting dan keaktoran.

Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pementasan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga wahana pembelajaran yang membentuk kepekaan, kedisiplinan, dan profesionalitas mahasiswa. Pengalaman tersebut diharapkan mampu menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi artistik dan profesional di masa depan. [rin/roz]
ADVERTISEMENTseedbacklink