zmedia

Lia Istifhama Dukung Strategi Prabowo Jaga Ekonomi Nasional di Tengah Tekanan Global

(Doc. Istimewa) Lia Istifhama, Anggota DPD RI 2024-2029.
Surabaya, Hariancendekia.com - Anggota DPD RI, Lia Istifhama, mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto usai menggelar rapat strategis bersama jajaran menteri ekonomi di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (19/3/2026).

Menurutnya, langkah tersebut menjadi upaya penting pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin memanas.

Lia menilai, langkah pemerintah tersebut menunjukkan keseriusan dalam merespons tekanan global yang terus berkembang. Ia menyebut, strategi yang disusun tidak hanya berorientasi pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional secara berkelanjutan.

“Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang terus berkembang,” ujarnya.

Menurut Lia, kebijakan efisiensi yang tengah disiapkan pemerintah bukan sekadar penghematan anggaran. Ia menegaskan, efisiensi justru menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Efisiensi ini bukan berarti menurunkan produktivitas. Justru menjadi momentum untuk membentuk SDM yang tangguh dan tetap memiliki semangat kerja tinggi, termasuk dalam skema kerja fleksibel seperti Work From Anywhere (WFA),” jelasnya.

Ia menambahkan, pola kerja fleksibel seperti WFA berpotensi meningkatkan kinerja apabila diimbangi dengan disiplin dan tanggung jawab. Lia juga mendorong agar kebijakan WFA satu hari dalam sepekan dapat diimplementasikan secara optimal, baik di sektor pemerintah maupun swasta.

Dalam aspek fiskal, Lia menyoroti komitmen pemerintah menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3 persen. Ia menilai langkah ini krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Kami menjaga APBN agar defisit tetap di bawah 3 persen sesuai arahan Sidang Kabinet Paripurna. Upaya ini dilakukan melalui efisiensi di berbagai kementerian dan lembaga,” ungkapnya.

Selain itu, Lia mengapresiasi langkah antisipatif pemerintah terhadap potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas global. Salah satu strategi yang ditempuh adalah meningkatkan produksi batu bara untuk menopang penerimaan negara, disertai kajian kebijakan pajak ekspor.

Ia menilai kebijakan tersebut mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan energi dalam negeri dan peluang peningkatan pendapatan negara.

Di sektor energi, Lia juga menyoroti percepatan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Transformasi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan biaya energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Program tersebut rencananya akan dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai bagian dari strategi efisiensi nasional yang terintegrasi.

Lebih lanjut, Lia menyebut kebijakan WFA juga berpotensi menekan konsumsi bahan bakar hingga 20 persen akibat berkurangnya mobilitas pekerja. Ia berharap kebijakan ini dapat memberikan dampak nyata terhadap efisiensi energi dan produktivitas kerja.

“Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang disiplin, efisiensi energi, serta inovasi pola kerja, saya optimistis stabilitas ekonomi nasional dapat terus terjaga di tengah tantangan global,” pungkasnya.

(rin/red)
dukungan