![]() |
| (Doc. Istimewa) Bukti kiriman pesan WhatsApp |
Peristiwa tersebut bermula ketika BB mengunggah flyer kegiatan nobar film “Pesta Babi” melalui akun TikTok pribadinya pada Jumat (8/5/2026). Kegiatan pemutaran film itu digelar di kawasan Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Acara nobar diketahui merupakan kolaborasi antara Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mardaheka Universitas Antakusuma Pangkalan Bun bersama komunitas Lamankita. Unggahan itu kemudian ramai diperbincangkan dan ditonton puluhan ribu pengguna media sosial.
BB mengatakan kegiatan berlangsung normal dan dihadiri sekitar 60 peserta. Namun beberapa hari setelah acara berlangsung, dirinya menerima pesan intimidatif melalui WhatsApp dari nomor tak dikenal.
“Pengirim meminta saya menghapus unggahan terkait nobar film tersebut,” ujar BB.
Menurutnya, ancaman itu disertai peringatan bahwa dirinya bisa mengalami kejadian serupa dengan penyiraman cairan berbahaya yang pernah menimpa aktivis Kontras, Andrie Yunus.
Awalnya, BB menduga tautan yang dikirim pelaku merupakan modus pencurian data atau phishing. Namun setelah diperiksa, tautan tersebut ternyata mengarah langsung ke unggahan ajakan nobar film “Pesta Babi” miliknya di TikTok.
BB menyebut tidak hanya dirinya yang mendapat intimidasi. Beberapa kerabatnya juga dikabarkan menerima pesan serupa dari nomor tak dikenal.
Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi dan ruang diskusi publik. Menurutnya, pemutaran film dokumenter merupakan bagian dari ruang edukasi dan pertukaran gagasan di masyarakat.
Film dokumenter “Pesta Babi” merupakan karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Film itu diproduksi melalui kolaborasi sejumlah organisasi, termasuk Watchdoc dan Greenpeace Indonesia bersama komunitas media independen lainnya.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Tengah, Janang Firman, mengatakan film tersebut menggambarkan perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan ruang hidupnya di tengah proyek strategis nasional.
Menurut Janang, isu yang diangkat dalam film juga relevan dengan kondisi di Kalimantan Tengah yang saat ini menghadapi berbagai proyek pembangunan berskala besar.
Sementara itu, Koordinator Aliansi Jurnalis Independen Persiapan Banjarmasin, Rendy Tisna, mengecam ancaman yang dialami BB. Ia meminta aparat kepolisian segera mengusut pelaku intimidasi dan menjamin keamanan jurnalis.
“Pemaksaan untuk menghapus unggahan kegiatan nobar tidak memiliki dasar hukum, apalagi jika disertai ancaman kekerasan,” kata Rendy.
AJI juga berencana membawa persoalan tersebut ke Mabes Polri sebagai bentuk dorongan agar kasus ancaman terhadap jurnalis dapat ditindak secara serius.
(zal/red)
