![]() |
| Moh. Imam Sulistiyu, Merupakan mahasiswa aktif UIN Malang Fakultas Sains dan Teknologi |
Dampak dari penyembahan berhala akademik ini mulai menggerogoti mentalitas mahasiswa dan melahirkan kebebalan intelektual berjamaah. Alih-alih menjadi motor penggerak peradaban, mahasiswa justru terjebak dalam zona nyaman pragmatisme demi mengamankan kelulusan dengan predikat cum laude. Mereka menjadi sangat kompetitif secara individual untuk urusan angka, tetapi apatis dan kehilangan solidaritas secara kolektif terhadap isu kemanusiaan. Mahasiswa modern menjadi takut bersuara, enggan mengkritisi kebijakan, dan abai terhadap fungsi kontrol sosial hanya karena khawatir nilai akademiknya akan terancam oleh otoritas kampus. Ketika orientasi belajar menyempit hanya pada pemenuhan syarat administratif dan transaksi birokratis, menukar hafalan jangka pendek dengan nilai A dari dosen maka hakikat pembebasan melalui ilmu pengetahuan pun runtuh, menyisakan manusia-manusia pintar yang kehilangan empati dan karakter.
Oleh karena itu, reorientasi dan pemulihan khittah pendidikan tinggi merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi jika kita ingin menyelamatkan masa depan bangsa. Kampus harus segera mendobrak belenggu formalitas ini dengan mengembalikan ruang kelas sebagai mimbar akademik yang merdeka, yang menghargai keberanian berpendapat, nalar kritis, dan orisinalitas gagasan di atas kepatuhan buta terhadap teks. IPK harus dikembalikan pada porsi yang semestinya sebagai refleksi evaluasi berkala, bukan penentu tunggal takdir intelektual dan martabat seorang manusia. Hanya dengan meruntuhkan berhala angka ini, universitas dapat melahirkan kembali generasi muda yang tidak sekadar berotak cemerlang di atas lembar transkrip nilai, tetapi juga memiliki ketajaman berpikir dan keberanian bertindak di medan pengabdian nyata.
Di era digitalisasi pendidikan saat ini, sebuah ironi besar tengah terjadi di koridor-koridor perguruan tinggi kita: mahasiswa mengalami dekonstruksi eksistensial, bertransformasi dari manusia seutuhnya menjadi sekadar "kerumunan angka". Kritik tajam ini bukan tanpa alasan, sebab institusi akademik kian terjebak dalam standardisasi mekanis yang menilai, mengotakkan, dan melabeli keunikan identitas mahasiswa hanya berdasarkan angka desimal di atas selembar transkrip nilai. Mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai individu dengan bakat, empati, dan karakter yang unik, melainkan sebagai komoditas statistik yang diukur lewat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Penyeragaman massal ini merupakan bentuk dehumanisasi nyata, di mana ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat penyemaian gagasan merdeka, beralih fungsi menjadi pabrik pencetak robot berlabel nilai alfabetis.
Akibat dominasi berhala angka ini, lanskap psikologis dan sosial mahasiswa hari ini mengalami degradasi yang mengkhawatirkan. Budaya kompetisi yang tidak sehat tumbuh subur sebuah kondisi di mana antarmahasiswa tidak lagi saling berkolaborasi, melainkan saling sikut demi mengamankan digit nilai tertinggi. Tekanan sosiokultural untuk selalu tampil "sempurna di atas kertas" ini memicu kecemasan massal berupa academic burnout, patah arang, hingga depresi yang mendalam. Lebih jauh lagi, sistem yang opresif ini melahirkan pragmatisme akademik yang koruptif; demi menyelamatkan angka-angka tersebut, mahasiswa kerap menghalalkan segala cara melalui plagiarisme, kecurangan massal, hingga maraknya industri joki tugas. Ketika nilai akademis dikultuskan melebihi integritas, maka moralitas terpaksa dikorbankan di altar kelulusan.
Kondisi nestapa ini jelas berbenturan keras dengan khazanah pemikiran para begawan pendidikan dan pemikir bangsa. Ki Hadjar Dewantara sejak awal menegaskan bahwa pendidikan adalah proses "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak" agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota Masyarakat sebuah konsep humanisasi yang berakar pada kemerdekaan batin, bukan mekanisasi angka-angka. Senada dengan itu, tokoh emansipasi Tan Malaka dalam magnum opusnya pernah menyentil bahwa tujuan pendidikan itu untuk mempertajam pikiran, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan; bukan sekadar menumpuk hafalan demi kepuasan statistik penguji.
Bahkan, dari dimensi spiritual, KH. Hasyim Asy'ari dalam kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim meletakkan keluhuran akhlak (adab) jauh di atas pencapaian intelektual formal, karena ilmu tanpa transformasi spiritual hanya akan melahirkan kesombongan yang merusak. Menggenapi hal tersebut, pakar tafsir M. Quraish Shihab senantiasa mengingatkan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah yang dibekali potensi akal dan kalbu yang tak terbatas untuk menebar kemaslahatan (rahmatan lil 'alamin). Membatasi luasnya samudra potensi manusia hanya dalam kotak sempit angka desimal adalah bentuk pengerdilan terhadap anugerah Ilahi. Sudah saatnya kita meruntuhkan rezim angka ini dan mengembalikan khitah pendidikan sebagai rahim yang melahirkan manusia seutuhnya, bukan sekadar mesin pencetak angka.
Deretan angka IPK sempurna dalam transkrip nilai kerap kali menjadi fatamorgana yang melahirkan "ilusi kompetensi" di dunia pendidikan modern. Ketika ruang kuliah mereduksi esensi belajar menjadi sekadar ritus hafalan jangka pendek demi lulus ujian, mahasiswa terjebak dalam formalitas yang mengabaikan pemahaman konseptual mendalam. Akibatnya, banyak sarjana gagap saat dihadapkan pada analisis kritis atau riset di laboratorium kehidupan nyata. Fenomena ini jelas melenceng dari hakikat pendidikan sejati yang dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu menuntun manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai anggota masyarakat. Senada dengan itu, KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim juga menegaskan bahwa keluhuran etika (adab) dan internalisasi ilmu jauh lebih utama ketimbang sekadar formalitas pengakuan di atas kertas.
Kesenjangan ini kian nyata ketika disrupsi teknologi, globalisasi, dan krisis lingkungan menuntut keterampilan kompleks seperti critical thinking, adaptabilitas, dan integritas moral kualitas yang sering kali luput dari penilaian IPK konvensional. Padahal, Tan Malaka pernah mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Senada dengan pandangan tersebut, Prof. M. Quraish Shihab menekankan bahwa akal dianugerahkan bukan sekadar untuk menampung informasi, melainkan untuk melakukan tadabbur demi melahirkan kearifan (hikmah). Sudah saatnya kita meruntuhkan berhala angka ini dan mengembalikan institusi akademik sebagai wadah pembentuk manusia yang adaptif, kritis, dan berakhlak kokoh dalam menjawab tantangan zaman.
Kampus sebagai Menara Gading yang Terasing
Kampus hari ini perlahan-lahan berubah menjadi menara gading yang megah namun sepi, tempat di mana mahasiswa sibuk memahat angka IPK tinggi di atas kertas tetapi terasing dari jeritan realitas di sekitarnya. Akibat terlalu fokus mengejar jalur aman akademis demi nilai formal, mereka enggan keluar dari zona nyaman dan menarik diri dari riuhnya diskusi kritis, organisasi, maupun pengabdian masyarakat. Fenomena ini melahirkan generasi yang mengalami apa yang dikhawatirkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni pendidikan yang menjauhkan manusia dari rakyatnya. Mahasiswa menjelma menjadi intelektual yang "asing" di tanah airnya sendiri fasih merapal teori-teori besar global, namun buta aksara terhadap potret kemiskinan, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan kebijakan publik yang justru terpampang nyata di depan gerbang kampus mereka.
Keterasingan ini adalah sebuah tragedi kemanusiaan dan intelektual yang menodai marwah pendidikan itu sendiri. Jika Tan Malaka menegaskan bahwa "Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali," maka kampus saat ini sedang memproduksi ironi tersebut. Selaras dengan itu, KH Hasyim Asy'ari dalam konsep etika menuntut ilmunya selalu menekankan bahwa buah dari ilmu adalah amal dan kebermanfaatan sosial, bukan menara keangkuhan egoistis. Memburu nilai akademis tentu tidak salah, namun menjadikannya satu-satunya kiblat hingga membutakan mata hati dari realitas sosial adalah kegagalan sistemik. Seperti pesan Prof. M. Quraish Shihab, ilmu yang sejati harus membumi dan melahirkan rahmat serta kepedulian bagi sesama; karena menjadi cerdas di atas kertas tidak akan pernah ada gunanya jika kita kehilangan kepekaan kemanusiaan di dunia nyata.
Sudah saatnya kita melakukan dekonstruksi massal terhadap "berhala angka" bernama Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang mendikte ruang kelas kita. Nilai akademik harus direposisi bukan sebagai tujuan akhir yang absolut, melainkan sebagai refleksi jujur dari proses belajar. Selaras dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan sejati harusnya memerdekakan manusia dan menyuburkan batin, bukan sekadar memenjarakan nalar mahasiswa dalam standarisasi angka yang kaku. Kampus dan dunia kerja harus mulai bergeser ke optimalisasi portofolio berbasis dampak seperti proyek sosial, rekam jejak organisasi, dan hasil riset nyata. Ketika proses seleksi hanya berbasis skrining kuantitatif, kita sedang melanggengkan apa yang dikritik oleh M. Quraish Shihab tentang bahaya hilangnya substansi spiritualitas dan akhlak dalam mencari ilmu, di mana pencarian kebenaran bergeser menjadi sekadar perburuan status formalitas.
Oleh karena itu, mari kita suarakan gerakan "Kembali ke Substansi" sebagai manifesto perjuangan mahasiswa hari ini. Kita butuh keberanian untuk meruntuhkan pemujaan terhadap angka demi menginvestasikan waktu pada pengembangan kapasitas diri, integritas ilmiah, serta kepekaan sosial. Meminjam pemikiran Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda; maka sangat naif jika kemewahan itu kita tukar hanya dengan selembar transkrip nilai yang menipu. Sembari memegang teguh pesan keteguhan iman dan kemandirian berpikir dari K.H. Hasyim Asy'ari, mari kita jadikan ruang kuliah sebagai laboratorium peradaban. Mahasiswa yang "menang" di masa depan bukan mereka yang memiliki deretan angka sempurna di atas kertas, melainkan mereka yang mampu menerjemahkan ilmu menjadi amal nyata dan dampak konkret bagi masyarakat.
Pada akhirnya, transkrip nilai hanyalah selembar kertas tipis yang teramat sempit untuk menampung luasnya potensi, membubungnya idealisme, dan tulusnya dedikasi seorang mahasiswa. Menilai kualitas manusia hanya dari deretan angka IPK adalah bentuk kenaifan akademis, sebab seperti yang pernah ditegaskan oleh Ki Hadjar Dewantara, pendidikan sejatinya adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Ketika mahasiswa terjebak dalam kultus angka, mereka kehilangan ruh pergerakannya. Tan Malaka dalam pusaka pemikirannya menampar kesadaran kita bahwa bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali. Mahasiswa adalah jembatan etis antara teori di ruang kelas dan jeritan realitas di lapangan, bukan sekadar pemburu predikat cum laude yang menutup mata dari ketimpangan sosial.
Oleh karena itu, mari kita kembalikan khittah mahasiswa sebagai kompas moral dan penggerak zaman, bukan budak dari kerumunan angka. Dalam perspektif spiritual yang menyejukkan, Prof. M. Quraish Shihab mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia raih untuk dirinya sendiri, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia pancarkan untuk lingkungannya sebuah resonansi dari semangat KH. Hasyim Asy'ari yang memandang ilmu pengetahuan sebagai alat perjuangan untuk menegakkan keadilan dan mengangkat martabat kemanusiaan. Juri yang bijaksana, sejarah tidak akan pernah mencatat seberapa tinggi angka di atas transkrip nilaimu, melainkan seberapa besar dampak nyata yang kamu tinggalkan untuk kemanusiaan. Jadilah pembuat sejarah, karena esok hari, bangsa ini tidak butuh robot-robot ber-IPK sempurna yang gagap berdampak; bangsa ini butuh manusia-manusia tangguh yang siap mewakafkan pikirannya demi kemaslahatan semesta. (*)
_________
*) Penulis: Moh. Imam Sulistiyu, Merupakan mahasiswa aktif UIN Malang Fakultas Sains dan Teknologi.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
