![]() |
| (Doc. Istimewa) Mahasiswi Matematika Universitas Brawijaya, Siti Makhmuda Sabrinatul Theriska, menunjukkan trofi Juara 3 Olimpiade Single Window 2026 di Jakarta |
Kompetisi tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pekan LNSW 2026. Tahun ini, OSW diikuti 589 mahasiswa dari 140 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Keberhasilan Siti menjadi perhatian karena ia berasal dari Program Studi Matematika, sementara materi lomba berfokus pada National Single Window, logistik, perdagangan internasional, ekspor-impor, serta kerja sama ekonomi regional dan global.
Siti mengaku awalnya mengetahui kompetisi tersebut melalui media sosial Instagram. Ketertarikannya muncul setelah melihat informasi penyelenggaraan OSW dan prestasi mahasiswa UB pada tahun sebelumnya.
“Saya sebenarnya baru pertama kali mendengar tentang Single Window. Materinya juga tidak diajarkan secara khusus di Program Studi Matematika. Namun saya tertarik mencoba hal baru dan mulai mempelajari apa itu National Single Window serta berbagai materi yang berkaitan dengan ekspor-impor dan logistik,” ujarnya.
Untuk mempersiapkan diri, Siti memanfaatkan e-book dan materi pendukung yang disediakan panitia. Ia juga mempelajari berbagai informasi dari situs resmi terkait dan membuat rangkuman pribadi untuk mempermudah proses belajar.
Persiapan dilakukan selama sekitar satu hingga dua bulan sebelum kompetisi berlangsung. Intensitas belajar semakin meningkat setelah dirinya berhasil lolos ke jajaran 15 besar nasional.
Menurut Siti, tantangan terbesar dalam kompetisi tersebut adalah luasnya cakupan materi yang harus dipahami. Pada saat bersamaan, ia juga menjalani program magang sehingga harus membagi waktu secara efektif.
“Materinya sangat luas karena berkaitan dengan ekspor-impor, logistik, hingga kerja sama internasional. Saya harus belajar di malam hari setelah magang dan membuat catatan-ringkasan agar lebih mudah mengingat materi,” tuturnya.
Tahapan OSW berlangsung secara ketat dan berjenjang. Seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti ujian daring menggunakan Safe Exam Browser (SEB) yang diawasi melalui Zoom. Dari ratusan peserta, dipilih 50 besar untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Seleksi kemudian menyaring 15 peserta terbaik yang masuk semifinal. Pada tahap ini peserta menghadapi sesi soal wajib dan soal rebutan sebelum akhirnya dipilih lima finalis terbaik yang berhak tampil di final nasional di Jakarta.
Setelah melalui seluruh tahapan, Siti berhasil menembus tiga besar nasional. Ia mengaku tidak menyangka mampu meraih prestasi tersebut di tengah persaingan yang sangat kompetitif.
“Saya merasa bangga dan senang karena tidak menyangka bisa sampai di tahap ini. Kompetisinya sangat kompetitif, pesertanya ratusan, dan penilaiannya juga mempertimbangkan kecepatan serta ketepatan jawaban,” katanya.
Selain membawa pulang prestasi, pengalaman mengikuti final nasional juga memberikan kesan tersendiri bagi Siti. Kunjungan ke Jakarta untuk mengikuti final OSW menjadi pengalaman pertamanya bepergian ke luar Jawa Timur.
“Panitianya sangat ramah dan semua akomodasi sudah difasilitasi. Saya juga bisa bertemu teman-teman dari berbagai universitas yang sangat suportif. Kami bahkan sempat belajar bersama sebelum final,” ujarnya.
Siti berharap mahasiswa tidak ragu mengikuti kompetisi meskipun tidak sepenuhnya linier dengan bidang studinya. Menurutnya, keberanian mencoba dan kemauan belajar menjadi modal penting untuk meraih prestasi.
“Selagi ada kesempatan, coba saja dulu. Jangan merasa minder atau pesimis hanya karena kompetisinya tidak sesuai dengan program studi. Yang paling penting adalah percaya pada kemampuan diri sendiri dan usaha yang sudah dilakukan,” pesannya.
(*/red)
