![]() |
| (Doc. Istimewa) Peserta Ziarah Intelektual IKA PMII dan Rayon Muhammad Yunus Al-Muys berfoto di depan Monumen Marsinah usai menelusuri jejak perjuangan tokoh aktivis |
Kegiatan ini dirancang sebagai ruang refleksi untuk mengkaji kembali pemikiran para tokoh bangsa dan pejuang kemanusiaan. Selain membahas gagasan mereka, peserta juga diajak menelusuri langsung jejak perjuangan para tokoh tersebut melalui agenda ziarah.
Pada hari pertama, Sabtu, peserta mengikuti diskusi intensif yang membedah pemikiran, ideologi, serta karya dari sembilan tokoh lintas generasi dan latar belakang perjuangan.
Tokoh-tokoh yang menjadi fokus kajian meliputi Soekarno dan Sarinah yang dikaji dari perspektif nasionalisme dan emansipasi perempuan. Selain itu, peserta juga mendiskusikan perjuangan Marsinah dan Salim Kancil dalam memperjuangkan hak-hak buruh serta kelestarian lingkungan dan agraria.
Pembahasan lainnya menyoroti konsistensi Munir Said Thalib dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), pemikiran KH Agus Sunyoto dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengenai Islam Nusantara, kebudayaan, dan pluralisme, hingga keteladanan Riyanto Banser dalam nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kemanusiaan.
Tak hanya itu, pemikiran Tan Malaka juga menjadi bagian penting dalam diskusi, terutama terkait gagasan revolusioner mengenai konsep kemerdekaan yang utuh.
“Diskusi ini bukan sekadar romantisasi sejarah, melainkan upaya membumikan kembali ide-ide besar para tokoh agar relevan dengan tantangan zaman sekarang,” ujar perwakilan IKA PMII Rayon Al-Muys, Doni, di sela kegiatan.
Memasuki hari kedua, Minggu, kegiatan dilanjutkan dengan agenda Ziaroh Tokoh. Para peserta melakukan perjalanan ke makam dan situs petilasan sejumlah tokoh yang sebelumnya telah dibahas dalam forum diskusi.
Menurut panitia, ziarah tersebut tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas spiritual, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menghadirkan kembali semangat perjuangan yang diwariskan para tokoh kepada generasi penerus.
Ketua Rayon Muhammad Yunus Al-Muys mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan mendorong restrukturisasi cara berpikir kader melalui refleksi mendalam atas perjuangan para tokoh yang dikaji.
“Kami berharap, setelah menelusuri dari ide hingga gerakan ini, para kader Al-Muys ke depan tidak hanya menjadi pengamat. Mereka harus bisa belajar, menyerap sari pati pemikiran beliau-beliau, dan mengaplikasikannya dalam gerakan nyata di masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk para pahlawan serta komitmen bersama untuk terus merawat nalar kritis dan kepedulian sosial yang menjadi ciri khas warga pergerakan.
_________
*) Pewarta: Doni Bagaskara.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
