Harian Cendekia

Retaknya Pendidikan Karakter Di Pesantren

Muthiatin Cholisoh, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Unissula
Hariancendekia.com | Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang telah berkembang sejak lama di Indonesia dan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, moral, serta kepribadian generasi bangsa yang sholih. Sebelum pendidikan formal muncul di Indonesia, di tempat inilah nilai-nilai keislaman menjadi dasar pendidikan secara menyeluruh dalam kegiatan sehari-hari. Dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, semua diatur dengan nilai-nilai keislaman atau budaya pesantren.

Dalam proses tersebut, keteladanan yang ditunjukkan oleh kiai, ustaz, dan para pengurus pesantren menjadi unsur yang sangat menentukan. Keteladanan berfungsi sebagai metode pendidikan yang efektif karena santri tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui penyampaian materi, tetapi juga belajar dari sikap, perilaku, dan praktik nyata yang ditampilkan oleh para pendidik dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan juga menjadi hal utama atau mendasar untuk pembentukan karakter. Menurut salah satu teori pembelajaran menjelaskan bahwa murid atau santri dalam dunia pesantren akan meniru perilaku, karakter tokoh yang dianggap memiliki power di tempat tersebut. Oleh karena itu, konsistensi karakter para pendidik, kiai atau pengasuh menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembentukan nilai-nilai yang diajarkan di pesantren. Jadi, kiai dan pengasuh menjadi sorotan utama, pusat perhatian, figur keteladanan, sumber referensi dalam segala tindakan dan urusan bagi santri-santrinya.

Pada kenyataannya, dari dulu sampai sekarang sebenarnya banyak tindakan kekerasan, pelecehan seksual, penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan, maupun pelanggaran terhadap norma-norma sosial juga nilai-nilai keagamaan di mana pun berada hampir kita temukan. Bahkan, di lembaga formal atau nonformal, lembaga pendidikan ataupun pesantren tak ketinggalan. Dulu informasi atau berita menyimpang seperti itu tidak mudah diketahui oleh banyak orang atau masyarakat karena dunia digital belum lahir. Akan tetapi, sekarang semua berita baik positif maupun negatif sangat mudah sekali menyebar dan mudah diakses oleh siapa pun. Pertanyaannya mengapa perilaku menyimpang seperti itu bisa terjadi? Lembaga pendidikan dan pesantren yang merupakan lembaga yang mempunyai andil besar dalam pembentukan karakter murid atau santri justru tidak dapat dipercaya. Akhir-akhir ini mencuat banyak kasus penyimpangan karakter yang muncul di pesantren baik di Jawa Tengah atau Jawa Timur telah dibaca oleh masyarakat. Akhirnya, lembaga ini mengalami penurunan tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga pesantren karena mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Kasus-kasus yang terjadi tersebut mendapat perhatian publik dan mencoreng citra pesantren sebagai lembaga pembinaan karakter.

Fenomena itu mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara nilai-nilai moral yang diajarkan di lingkungan pesantren dengan implementasinya dalam praktik kehidupan sehari-hari dan menimbulkan kekecewaan masyarakat karena pesantren yang seharusnya menjadi benteng moral justru dinilai gagal menjaga nilai-nilai yang diajarkannya. Kondisi ini menunjukkan adanya keretakan dalam sistem keteladanan yang selama ini menjadi pilar pendidikan karakter pesantren.

Mengapa penyimpangan nilai-nilai agama, moral, dan nilai-nilai sosial bisa terjadi di lingkungan pesantren? Berikut akan dibahas tentang faktor-faktor yang menyebabkan retaknya keteladanan karakter di pesantren serta dampaknya terhadap proses pendidikan dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam.

1. Keteladanan merupakan salah satu pilar utama dalam pendidikan pesantren

Dalam tradisi pesantren, proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi pelajaran, tetapi juga melalui contoh nyata yang diberikan oleh kiai, ustaz, pengurus, maupun santri senior. Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan akhlak mulia lebih mudah ditanamkan melalui perilaku yang dapat dilihat dan ditiru oleh para santri dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, keteladanan menjadi metode pendidikan yang sangat efektif karena murid atau santri belajar melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori. Secara pedagogis, keteladanan memiliki pengaruh yang kuat terhadap pembentukan karakter. Anak atau remaja cenderung meniru perilaku figur yang dihormati dan dianggap memiliki otoritas atau kekuasaan. Dalam lingkungan pesantren, kiai dan ustaz menempati posisi sebagai tokoh sentral yang menjadi panutan. Sikap, tutur kata, cara beribadah, hingga cara berinteraksi dengan orang lain akan diamati dan ditiru oleh santri. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan karakter di pesantren sangat bergantung pada konsistensi perilaku para pendidiknya.

Keteladanan juga memperkuat internalisasi nilai-nilai Islam. Pendidikan pesantren bertujuan membentuk pribadi muslim yang beriman, bertakwa, dan berakhlak karimah. Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah meresap apabila diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Misalnya, kedisiplinan dalam menjalankan salat berjamaah, keikhlasan dalam mengabdi, sikap tawazduk kepada guru, serta kepedulian terhadap sesama menjadi pembelajaran yang hidup melalui contoh nyata. Proses ini menjadikan santri tidak hanya memahami ajaran agama secara kognitif, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam perilaku.

Selain itu, keteladanan berperan dalam membangun budaya pesantren yang positif. Budaya tersebut terbentuk melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus oleh seluruh warga pesantren. Ketika para pengasuh, guru, dan pengurus menunjukkan integritas serta akhlak yang baik, maka budaya disiplin, saling menghormati, gotong royong, dan tanggung jawab akan tumbuh secara alami di lingkungan pesantren. Sebaliknya, apabila figur teladan menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan, maka kepercayaan santri dapat berkurang dan proses pendidikan karakter menjadi kurang efektif.

Di sisi lain, pentingnya keteladanan semakin terasa ketika muncul berbagai kasus yang melibatkan oknum pendidik atau pengasuh pesantren dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral maupun agama. Kasus-kasus tersebut tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pesantren. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas keteladanan bukan sekadar aspek pendukung, melainkan fondasi utama dalam menjaga kredibilitas lembaga pendidikan Islam. Oleh sebab itu, penguatan integritas, profesionalisme, dan akhlak para pendidik menjadi kebutuhan yang sangat penting agar pesantren tetap mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai lembaga pembentuk karakter dan moral generasi bangsa.

2. Faktor Penyebab Retaknya Keteladanan Karakter

a. Penyalahgunaan kekuasaan

Kedudukan kiai atau pengasuh sebagai figur yang memiliki kewenangan besar dalam lingkungan pesantren berpotensi menimbulkan penyalahgunaan wewenang apabila tidak diimbangi dengan mekanisme pengawasan dan akuntabilitas yang efektif. Struktur hubungan yang bersifat hierarkis antara pengasuh dan santri sering kali menyebabkan santri merasa sungkan, takut, atau tidak berani menyampaikan keluhan, kritik, maupun melaporkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pesantren.

Dan realita inilah yang terjadi di masyarakat. Setelah kasus terkuak, satu demi satu korban baru berani melaporkan diri ke pihak berwajib. Yang sebelumnya korban hanya bungkam dan enggan berbicara, bahkan membuat narasi lain yang bersifat melindungi oknum. Kondisi tersebut dapat menciptakan ruang bagi terjadinya penyimpangan yang sulit terdeteksi sehingga berpotensi mengikis nilai keteladanan yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam pendidikan pesantren.

b. Lemahnya Sistem Pengawasan

Sebagian pesantren masih menerapkan sistem manajemen yang tertutup sehingga pengawasan terhadap aktivitas pengelola menjadi kurang optimal. Kurangnya transparansi dapat menyebabkan pelanggaran etika tidak segera terdeteksi dan ditangani. Bahkan, ada juga pesantren yang digunakan sebagai kedok belaka tanpa ada izin pendirian pesantren, tiba-tiba muncul pesantren dengan banyak santri karena sang kiai memiliki modal besar untuk biaya pendirian. Ada juga pesantren yang berdiri berawal dari tempat pengobatan. Sang kiai bisa dikatakan sebagai tabib. Karena banyak pasien yang menginap akhirnya jadilah pesantren tanpa terdaftar di lembaga pemerintah.

c. Krisis Integritas Individu

Krisis integritas individu merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan retaknya keteladanan karakter di lingkungan pesantren. Integritas menunjukkan adanya kesesuaian antara nilai, ucapan, dan tindakan seseorang dalam menjalankan amanah serta tanggung jawab yang diembannya. Nah, ketika seorang ustaz, pengasuh, atau kiai tidak mampu mempertahankan integritas ini, maka nilai-nilai agama, moral, dan sosial yang diajarkan kepada santri dalam kehidupan sehari-hari akan kehilangan kekuatan sebagai uswatun hasanah. Semua yang diucapkan di hadapan para santri bertentangan dengan realita perilaku sang pemimpin. Hal itu terjadi karena lemahnya pengendalian diri, rendahnya komitmen nilai-nilai keagamaan, kepentingan pribadi, kebahagiaan nafsu yang diutamakan daripada kepentingan lembaga, serta minimnya evaluasi dan pembinaan moral secara berkelanjutan.

Dalam pembahasan ini yang diangkat sebagai isu permasalahan sebagai korban pengasuh atau kiai, ustaz adalah santri putri. Dalam sistem kepengasuhan pesantren, sosok pak kiai tentunya didampingi ibu nyai yang tentunya memiliki integritas yang tinggi pula dalam menjaga amanat para wali santri. Ibu nyai tentunya mengetahui perilaku atau gerak-gerik sang kiai dalam bertindak mengasuh dan mendidik santri-santrinya. Ibu nyai harus bisa menjadi penyeimbang agar perilaku menyimpang tidak terjadi. Oleh karena itu kondisi ini tidak bisa dibiarkan dan harus segera teratasi agar kepercayaan masyarakat terhadap dunia pesantren tidak mengalami penurunan. Langkah yang bisa ditempuh antara lain pembinaan akhlak, peningkatan profesionalisme, serta penerapan evaluasi yang objektif untuk menjaga kredibilitas dan keteladanan para pendidik di lingkungan pesantren.

d. Minimnya Mekanisme Perlindungan Santri

Mekanisme perlindungan santri yaitu mencakup Sistem Operasional Prosedur (SOP) menjadi seorang santri yang meliputi aturan penerimaan santri baru, kepindahan santri, prosedur layanan dan bimbingan, perlindungan, bahkan aduan bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga memberikan dan menjamin rasa aman dan nyaman bagi santri. Selain itu, ketersediaan tempat menyampaikan laporan serta adanya payung perlindungan bagi pelapor. Kemudian ada tindak lanjut penanganan kasus. Oleh karena itu, penguatan mekanisme perlindungan santri melalui penyusunan kebijakan yang jelas, pembentukan unit pengaduan yang independen, serta penerapan sistem penanganan kasus yang transparan dan akuntabel menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan santri sekaligus memperkuat budaya keteladanan di lingkungan pesantren.

Bagaimanapun, upaya memulihkan keteladanan karakter di pesantren menjadi tanggung jawab bersama. Antara lain dengan memperkuat sistem pengawasan dan tata kelola pesantren, meningkatkan transparansi dalam pengelolaan lembaga, menyediakan mekanisme pengaduan yang aman bagi santri, melakukan pembinaan dan evaluasi berkala terhadap pengasuh dan tenaga pendidik, menanamkan budaya akuntabilitas dan integritas dalam seluruh aspek kehidupan pesantren serta melibatkan masyarakat dan wali santri dalam proses pengawasan pendidikan. Maka, dengan langkah-langkah itulah pesantren diharapkan dapat tetap menjaga eksistensi sebagai lembaga pendidikan yang berperan dalam membentuk generasi sholih, mufid, berakhlak mulia. (*)
_________
*) Penulis: Muthiatin Cholisoh, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, Unissula.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
-Advertisement-