Harian Cendekia

UMM Batalkan Penggunaan Toga Baru usai Dikritik Mirip Kostum Bantengan

(Doc. Istimewa) Toga wisuda yang menyerupai kostum kesenian bantengan atau yang dikenal sebagai "mberot"
Hariancendekia.com | Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membatalkan penggunaan toga baru untuk Wisuda Periode ke-122 Tahun 2026 setelah menuai kritik karena dinilai menyerupai kostum kesenian bantengan. Keputusan tersebut diumumkan Panitia Wisuda UMM melalui surat pemberitahuan kepada seluruh calon wisudawan sekaligus membuka layanan penukaran toga baru dengan toga versi lama mulai Senin (6/7/2026).

Dalam surat pemberitahuan tertanggal Minggu (5/7/2026), Panitia Wisuda UMM mengakui terdapat ketidaksesuaian pada desain, bahan kain, serta komposisi warna toga yang diproduksi sehingga penggunaan toga baru dibatalkan.

"Sehubungan dengan adanya kesalahan dan ketidaksesuaian desain, bahan kain, dan komposisi warna pada toga baru, maka Wisuda Periode #22 Tahun 2026 tetap memakai baju dan topi toga versi lama," demikian isi pengumuman panitia.

Panitia juga meminta seluruh peserta yang telah mengambil toga baru untuk menukarkannya di Gate B UMM Dome mulai pukul 09.00 WIB. Khusus peserta wisuda pada 9 Juli 2026, layanan penukaran dibuka hingga Rabu (8/7/2026).

"Demikian, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan saudara," tulis Panitia Wisuda UMM.

Keputusan tersebut diambil setelah desain toga baru menjadi perbincangan di media sosial. Kombinasi warna hitam, merah terang, dan kuning dinilai berbeda dari desain awal yang diperkenalkan kepada mahasiswa dengan dominasi hitam, merah marun, dan abu-abu.

Perbedaan itu memicu beragam komentar. Sejumlah warganet menyebut tampilan toga tersebut menyerupai kostum kesenian bantengan atau yang dikenal sebagai "mberot".

Seorang calon wisudawan UMM yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku kecewa karena produk yang diterima tidak sesuai dengan konsep yang sebelumnya diperlihatkan pihak kampus.

"Saya kecewa karena hasilnya jauh berbeda dari desain awal. Awalnya warna yang ditampilkan marun dan abu-abu, tetapi yang diterima justru merah terang dan kuning menyala," ujarnya.

Menurutnya, penilaian warganet bukan sekadar candaan. "Kalau melihat hasil jadinya, memang benar seperti yang ramai di TikTok. Tampilannya malah mirip kostum bantengan," katanya.

Selain desain, ia juga menyoroti perubahan kebijakan kepemilikan toga. Jika sebelumnya menggunakan sistem sewa dengan uang deposit yang dikembalikan setelah perlengkapan dikembalikan dalam kondisi baik, kini mahasiswa diwajibkan membeli toga seharga Rp225 ribu.

Meski menerima perubahan tersebut, ia berharap UMM melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses produksi.

"Karena hasil toganya tidak sesuai dengan desain awal, saya berharap ke depan ada quality control yang lebih baik. Kalau bisa, toga untuk wisudawan berikutnya benar-benar sesuai dengan desain yang diperlihatkan dan menggunakan bahan yang kualitasnya lebih baik," tuturnya.

(zil/red)
-Advertisement-