![]() |
| Tiga mahasiswa UMM mengikuti program Center of Excellence (CoE) Kehutanan di Jepang, Foto. Humas UMM |
Hariancendekia.com | Standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam pengelolaan hutan di Jepang diterapkan secara ketat. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Adib Minanur Rohman melihat pekerjaan bahkan bisa dihentikan jika standar keselamatan tidak terpenuhi.
Hal itu ditemukan Adib saat mengikuti program Center of Excellence (CoE) Kehutanan di Kyushu Bark Transport, Fukuoka, Jepang. Program tersebut berlangsung pada 6 Agustus hingga 20 Desember 2026.
Mahasiswa Program Studi Kehutanan UMM angkatan 2022 itu melihat penerapan K3 dimulai sebelum pekerja masuk ke area hutan. Kelengkapan alat pelindung diri (APD) menjadi salah satu hal yang wajib diperiksa sebelum bekerja.
Sebelum mengoperasikan chainsaw, pekerja harus menggunakan helm, pelindung pendengaran dan wajah, hingga celana khusus tahan gergaji atau cut-resistant chaps.
“Di Jepang, K3 bukan sekadar formalitas. Jika standar keselamatan tidak terpenuhi, pekerjaan bisa dihentikan,” ujar Adib.
Penerapan keselamatan juga dilakukan melalui KYK atau analisis prediksi bahaya setiap pagi. Prosedur ini digunakan untuk mengidentifikasi potensi risiko sebelum aktivitas dimulai.
Menurut Adib, kebiasaan tersebut membuat keselamatan menjadi budaya kerja, bukan sekadar prosedur administratif.
Ia juga mempelajari konsep dandori, yakni persiapan pekerjaan secara matang sebelum pelaksanaan. Perencanaan mencakup alur kerja, posisi evakuasi, hingga pembagian tugas.
Pola tersebut, kata Adib, membantu meningkatkan keselamatan sekaligus efisiensi kerja di lapangan.
Selama mengikuti CoE, ia tidak hanya belajar mengoperasikan dan merawat chainsaw. Adib turut terlibat dalam shitagari, yakni membersihkan gulma dan semak yang mengganggu pertumbuhan bibit Sugi dan Hinoki di area penanaman kembali.
Ia juga mengamati praktik clear-cutting yang dilakukan secara terencana. Setelah penebangan, lahan dibersihkan dan segera ditanami kembali untuk menekan risiko erosi, khususnya di wilayah dengan kemiringan tinggi.
Pengelolaan hutan turut didukung jaringan jalan hutan atau rindou. Akses tersebut mempermudah mobilitas alat dan pengangkutan hasil hutan dari area pengelolaan.
“Dulu saya lebih banyak memahami pengelolaan hutan dan pengoperasian alat dari teori perkuliahan. Setelah CoE, kemampuan hands-on saya meningkat, terutama dalam pengoperasian mesin kehutanan, refleks terhadap keselamatan kerja, dan pemahaman mengenai rantai pasok kayu dari hutan hingga pabrik pengolahan,” katanya.
Bagi Adib, hal paling mencolok bukan semata teknologi, melainkan konsistensi standar kerja. Ia menilai ketersediaan APD khusus dan penerapan prosedur keselamatan bagi pekerja lapangan di Indonesia masih perlu diperkuat.
Pengalaman di Jepang membuatnya melihat pengelolaan hutan berkelanjutan membutuhkan lebih dari kemampuan teknis. Keselamatan, disiplin, perencanaan, teknologi, aksesibilitas, dan pengelolaan lahan harus berjalan beriringan agar pekerjaan berlangsung aman dan efisien. (Red)
