Harian Cendekia

Berpenghasilan Rp700 Ribu Sebulan, Ibu Ini Tetap Perjuangkan Sekolah Gratis untuk Anaknya

pembukaan MPLS Sekolah Rakyat tahun ajaran 2026/2027 yang dihadiri Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein, Wakil Bupati Temanggung Nadia Muna, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Imam Maskur, serta jajaran Forkopimda, Foto Pemkab Wonosobo
Hariancendekia.com | Dengan penghasilan hanya sekitar Rp700 ribu per bulan, seorang ibu harus memutar otak agar lima anggota keluarganya tetap bisa makan dan bertahan hidup setiap hari.

Jumlah itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, apalagi untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Namun di tengah himpitan ekonomi itu, ada satu hal yang membuatnya bisa sedikit bernapas lega.

Anaknya kini bisa bersekolah tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Bagi keluarga yang penghasilannya pas-pasan, biaya sekolah kerap menjadi momok tersendiri. Buku, seragam, hingga iuran bulanan biasanya menjadi beban yang sulit dijangkau.

Namun berkat adanya program sekolah gratis, beban itu kini terangkat dari pundak sang ibu.

Ia mengaku bersyukur karena anaknya tetap bisa menempuh pendidikan meski kondisi ekonomi keluarga jauh dari kata cukup.

Baginya, sekolah bukan sekadar rutinitas, melainkan jalan agar anaknya kelak memiliki hidup yang lebih baik dari dirinya.

Kisah semacam ini sebenarnya bukan hal asing di tengah masyarakat. Banyak keluarga berpenghasilan rendah menghadapi dilema serupa, harus memilih antara memenuhi kebutuhan pangan atau menyekolahkan anak.

Ketika keduanya sulit dijalankan bersamaan, kehadiran program pendidikan gratis menjadi angin segar yang sangat berarti.

Cerita sang ibu ini menjadi potret nyata bagaimana kemiskinan tidak selalu memadamkan harapan.

Selama masih ada celah untuk anak-anaknya mengenyam pendidikan, seorang ibu akan tetap berjuang, apa pun caranya.

Kisah sederhana ini sekaligus menjadi pengingat bahwa akses pendidikan gratis bukan hanya soal mengurangi beban biaya, tetapi juga soal menyalakan harapan bagi keluarga yang selama ini bertahan di tengah keterbatasan.

(red)