Harian Cendekia

Gus Baha Buka Suara soal Isu Sabdo Palon 2026, Ingatkan Umat Jangan Percaya Ramalan

Gus Baha mengajak masyarakat menyikapi isu Sabdo Palon dengan akal sehat dan tauhid, Foto. Istimewa
Hariancendekia.com | Ramainya isu Sabdo Palon yang kembali dikaitkan dengan berbagai peristiwa di Indonesia pada 2026 mendapat perhatian KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. Dalam pengajiannya, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai ramalan dan tetap berpegang pada ajaran Islam.

Gus Baha menilai kisah Sabdo Palon merupakan bagian dari sejarah dan tradisi lisan masyarakat Jawa yang harus dipahami sesuai konteksnya. Menurut dia, cerita tersebut tidak semestinya dijadikan dasar untuk mempercayai prediksi mengenai masa depan.

Dalam penjelasannya, Gus Baha mengulas kisah dialog antara Sunan Kalijaga dengan Sabdo Palon dan Nayagantra yang kerap muncul dalam berbagai babad Tanah Jawa. Ia menyebut kisah itu menggambarkan proses penyebaran Islam yang dilakukan para wali melalui pendekatan budaya, tanpa menghilangkan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, ia mengajak masyarakat melihat cerita tersebut sebagai bagian dari khazanah sejarah dan budaya Jawa, bukan sebagai sesuatu yang harus dimaknai secara mistis.

Gus Baha juga menyoroti maraknya unggahan di media sosial yang menghubungkan bencana alam, perubahan sosial, hingga berbagai fenomena sepanjang 2026 dengan isu "kembalinya" Sabdo Palon.

Menurutnya, cara pandang semacam itu tidak sejalan dengan prinsip akidah Islam apabila tidak didukung ilmu dan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia menegaskan bahwa berbagai perubahan yang terjadi di alam merupakan bagian dari sunnatullah atau ketetapan Allah SWT.

"Wong Islam iku kudu berfikir secara syariat dan tauhid. Ojo sitik-sitik dihubungno mistis sing gawe bingung ati," ujar Gus Baha.

Ia mengingatkan umat Islam agar tidak mudah terbawa isu-isu mistis yang berkembang di masyarakat. Sebaliknya, masyarakat diminta memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta terus menuntut ilmu yang bermanfaat.

Menurut Gus Baha, ramalan maupun spekulasi tidak seharusnya dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan. Ia menegaskan bahwa setiap Muslim perlu menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai landasan utama dalam menyikapi berbagai peristiwa, sekaligus mampu membedakan antara fakta sejarah yang dapat dipelajari dengan mitos yang belum memiliki dasar yang jelas.

(red)

Punya gagasan, atau informasi menarik di sekitar Anda? Kirimkan sekarang

Kirim Tulisan