Harian Cendekia

Kami Cuma Mau Pulang, Kenapa Harus Berhadapan dengan Jagoan Mabuk Sound Horeg?

Akses jalan di tutup total saat karnaval Sound Horeg, Foto. Istimewa
Hariancendekia.com | Saya sudah tiga tahun tinggal di Malang. Saya sudah cukup mengenal bagaimana kota ini hidup dengan mahasiswa yang memenuhi jalan, warung yang buka sampai malam, kemacetan, keramaian, dan berbagai bentuk hiburan masyarakat. Termasuk sound horeg.

Saya tahu ada yang menikmatinya. Saya tahu ada yang menganggapnya bagian dari hiburan dan budaya masyarakat. Silakan. Saya tidak punya urusan dengan orang yang mau bersenang-senang.

Tapi malam ini saya tidak sedang mempermasalahkan selera musik. Saya sedang mempermasalahkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: saya mau pulang ke rumah, tetapi saya tidak diperbolehkan lewat.

Bayangkan, Anda sedang pulang setelah beraktivitas seharian. Anda tidak datang untuk menonton acara, tidak ikut berjoget, tidak mengganggu siapa pun. Anda hanya ingin melewati jalan yang biasa Anda gunakan untuk pulang. Tiba-tiba jalan ditutup karena sound horeg. Anda tidak bisa masuk. Anda bahkan harus berhadapan dengan orang-orang yang bersikap seolah-olah merekalah pemilik jalan tersebut.

Emang, sejak kapan jalan umum berubah menjadi halaman pribadi penyelenggara sound horeg?

Ini jalan umum, bukan jalan nenek moyang kalian. Orang punya hak untuk menggunakannya. Orang punya hak untuk pulang ke rumahnya sendiri. Jangan karena sedang ada acara, lalu semua orang yang tidak ikut acara dianggap harus menyingkir dan menerima begitu saja.

Yang membuat saya semakin kesal bukan cuma jalan yang ditutup. Tetapi sikap sebagian orang yang ketika ditegur atau ditanya justru bertingkah sok jagoan. Nada bicara dinaikkan, badan dibusungkan, seolah-olah kerumunan membuat mereka otomatis lebih berkuasa. Tidak. Kalian bukan pemilik jalan. Kalian bukan penguasa kampung. Dan kalian tidak punya hak menentukan siapa boleh pulang ke rumahnya sendiri.

Lebih lucu lagi kalau keberanian itu muncul setelah mabuk minuman keras. Kalau memang punya argumen, sampaikan argumen. Kalau memang punya alasan kenapa jalan harus ditutup, jelaskan dengan baik. Tidak perlu sok keras. Tidak perlu mengintimidasi orang. Orang yang sedang pulang ke rumah tidak perlu diperlakukan seperti musuh hanya karena mempertanyakan kenapa aksesnya ditutup total.

Saya juga tidak tertarik dengan argumen bahwa sound horeg menghidupi banyak orang. Saya paham ada kru, pemilik sound, pedagang, tukang parkir, dan banyak orang lain yang mencari penghasilan dari keramaian tersebut. Tetapi ekonomi tidak pernah menjadi alasan untuk menghapus hak orang lain. Kalau sebuah kegiatan menghasilkan uang dengan membuat warga tidak bisa pulang ke rumahnya sendiri, maka yang perlu dibicarakan bukan cuma keuntungan acaranya, tetapi juga siapa yang menanggung kerugiannya.

Jangan juga berlindung di balik kalimat, “Kan sudah ada pemberitahuan.” Pemberitahuan bukan berarti warga otomatis setuju. Pemberitahuan bukan cek kosong untuk melakukan apa pun. Kalau sebuah jalan umum digunakan untuk acara, maka harus ada pengaturan yang masuk akal bagi masyarakat yang tetap membutuhkan jalan tersebut. Terutama mereka yang tinggal di sekitar lokasi.

Saya tidak meminta sound horeg dilarang. Saya tidak meminta semua orang berhenti berjoget. Saya bahkan tidak peduli kalian mau mendengarkan musik sekeras apa selama hak orang lain tetap dihormati. Yang saya persoalkan adalah ketika hiburan kalian mulai mengambil hak orang lain. (*)
_________
*) Penulis: Royhan, Pimred Hariancendekia.com.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.