![]() |
| Oleh Moh. Imam Sulistiyu |
Opini, Hariancendekia.com | Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Namun, bagaimana idealisme bisa tumbuh jika ia diredam oleh budaya senioritas dan birokrasi kampus yang kolot?
Di satu sisi, kampus selalu dibanggakan sebagai laboratorium demokrasi tempat lahirnya inovasi dan gagasan besar. Tapi jujur saja, ada ironi besar yang sering kali kita tutup-tutupi yaitu dunia akademis kita masih memelihara budaya feodal yang dibungkus rapi dengan kata "senioritas". Lucunya, senioritas di sini bukan lagi soal rasa hormat yang sehat, melainkan sudah berubah jadi ajang pamer kekuasaan yang lumayan toksik. Akhirnya, anak-anak baru atau staf muda yang punya ide segar malah dibikin takut dan bungkam hanya karena dianggap "belum ada pengalamannya". Kalau cara mainnya masih begini, meritokrasi cuma jadi pemanis di atas kertas. Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan budaya seperti ini merusak ruang belajar kita. Sudah saatnya kita bongkar budaya senioritas ini dan ganti dengan sistem yang jauh lebih terbuka serta menghargai kemampuan, bukan sekadar siapa yang masuk duluan.
Mengapa budaya ini bisa bertahan begitu awet? Jawabannya ada pada tradisi "kaderisasi" yang terus diwariskan tanpa pernah dikoreksi secara kritis. Berkedok pembentukan mental, junior sering kali dipaksa tunduk melalui tekanan psikologis yang perlahan dinormalisasi. Kondisi ini makin parah karena adanya ketimpangan akses mulai dari surat rekomendasi, koneksi, hingga relasi birokrasi yang semuanya dipegang oleh senior. Mau tidak mau, mahasiswa baru atau staf muda terpaksa mengalah dan patuh demi menyelamatkan nilai, kelulusan, atau kelancaran kegiatan organisasi mereka.
Senioritas di lingkungan kampus telah lama bergeser dari sekadar penghormatan etis menjadi bentuk relasi kuasa yang menindas dan memproduksi ketimpangan secara masif. Mengacu pada perspektif power relations Michel Foucault, senioritas bekerja melalui regulasi informal yang memelihara dominasi atas junior dan staf muda. Dampaknya bukan sekadar intimidasi psikologis, melainkan kerugian sistemis yang menciptakan opportunity cost sangat tinggi bagi inovasi kampus. Gagasan terobosan dan ide segar terbentur oleh mentalitas lambat khas feodalisme "harus lewat senior dulu." Akibatnya, birokrasi organisasi terbelenggu, ruang akademik menjadi tidak responsif terhadap perkembangan zaman, dan terbentuk trauma kolektif yang membelah mahasiswa ke dalam kubu in-group (senior dan pengikutnya) serta out-group (mereka yang terasingkan). Siklus ini mereproduksi dendam antar-generasi yang secara perlahan membunuh iklim kritis perguruan tinggi.
Fenomena toksik ini menjadi akar dari krisis eksistensial organisasi mahasiswa saat ini anjloknya minat dan kepedulian mahasiswa untuk berorganisasi. Generasi muda yang kritis dan pragmatis makin enggan membuang waktu dan energi dalam ekosistem yang penuh intrik politik internal, formalitas kosong, serta superioritas angkatan. Ketika ruang organisasi yang harusnya menjadi wadah pengembangan diri justru berubah menjadi panggung ego senior, mahasiswa memilih angkat kaki dan mengalihkan fokus pada pengembangan karir independen, kompetisi luar kampus, atau kegiatan akademik pribadi. Pengikisan minat (apati kolektif) ini membuat organisasi kampus kehilangan regenerasi talenta terbaiknya, menyisakan kepengurusan yang makin terasing dari realitas dan kebutuhan mahasiswa secara umum.
Dampak dari relasi kuasa yang tidak sehat ini sangat merusak iklim akademik. Gagasan-gagasan segar dan inovatif dari anak muda langsung mati sebelum sempat berkembang, hanya karena terbentur kalimat klasik yaitu "Dulu kami tidak begitu" atau "Kamu tahu apa, kan masih baru." Keputusan-keputusan penting di organisasi atau birokrasi kampus akhirnya tidak lagi diambil berdasarkan data, kualifikasi, atau kelayakan program, melainkan hasil "lobi-lobi di belakang layar" bersama senior yang memegang kendali.
Pada akhirnya, kampus berubah menjadi lingkungan yang sangat tidak inklusif dan tertutup. Budaya ini menciptakan sekat tegas antara lingkaran dalam (in-group) yang diisi oleh senior beserta para pengikutnya, dan lingkaran luar (out-group) bagi mereka yang berani bersuara beda. Ketika kepatuhan tunduk lebih dihargai daripada kualitas pemikiran, kampus secara perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang aman untuk menguji gagasan secara merdeka.
Kampus tidak boleh dibiarkan membusuk menjadi miniatur negara feodal yang memelihara ketimpangan di balik kedok tradisi akademik. Menghormati mereka yang lebih dulu masuk adalah etika sosial yang mulia, tetapi tunduk secara buta pada kesewenang-wenangan senioritas adalah bentuk pembodohan yang mengerdilkan akal sehat. Kita harus menyadari bahwa birokrasi dan organisasi kampus yang hebat tidak pernah dibangun atas dasar "siapa yang lebih dulu masuk," melainkan atas dasar "siapa yang paling memberi dampak dan inklusif bagi sesama." Memutus rantai senioritas toksik ini membutuhkan keberanian kolektif seluruh civitas akademika mahasiswa, dosen, hingga pimpinan kampus untuk membongkar tatanan lama yang lapuk demi mewujudkan perguruan tinggi yang benar-benar humanistis, profesional, dan relevan dengan zaman.
Perjuangan meruntuhkan feodalisme kampus ini sejatinya adalah panggilan sejarah untuk membebaskan pikiran manusia dari belenggu perbudakan mental. Mengutip ketegasan Tan Malaka dalam Madilog, "Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam pikiran, memperhalus perasaan, serta memperkokoh kemauan." Pendidikan perguruan tinggi sama sekali tidak dirancang untuk mencetak generasi penunduk yang kerdil di hadapan kekuasaan. Selaras dengan itu, penganjur pendidikan pembebasan, Paulo Freire, menegaskan bahaya nyata dari pembiaran sistem yang represif ini "Ketika pendidikan tidak membebaskan, mimpi kaum tertindas adalah menjadi penindas." Saatnya kita memutus lingkaran setan tersebut hari ini juga demi mengembalikan mimbar akademis kepada marwah aslinya. Wallahua’lam (*)
_________
*) Penulis: Muh. Iman Sulistiyu, Penulis aktif dan juga crew buletin kompak serta juga pernah menjabat pimpinan redaksi majalah bandara 2023-2024.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
