![]() |
| (Doc. TikTok) Tim Farmasi Rawat Inap RSI Unisma Malang berfoto bersama sebelum mengundurkan diri secara bersamaan |
Unggahan itu dibagikan akun TikTok @iniaku*** yang mengaku sebagai mantan karyawan tetap RSI Unisma Malang selama delapan tahun. Dalam unggahannya, ia menyebut keputusan mengundurkan diri bukan dipicu beban pekerjaan, melainkan persoalan hak-hak karyawan yang diklaim belum dipenuhi oleh pihak manajemen.
Pada unggahan tersebut, pemilik akun membagikan sejumlah foto bersama rekan kerja serta pengalaman selama bertugas di rumah sakit. Ia mengaku tetap bertahan selama bertahun-tahun karena menganggap rekan-rekannya sebagai keluarga kedua.
"Bertahan selama itu karena aku punya teman yang menurutku mereka adalah rumah kedua bagiku. Hiks sad banget kehilangan mereka," tulisnya dalam salah satu slide unggahan.
Namun, ia menilai kondisi berubah seiring kebijakan manajemen yang disebut semakin memberatkan pegawai. Menurutnya, persoalan bukan terletak pada tekanan pekerjaan, melainkan hak-hak karyawan yang belum diselesaikan.
"Bukan karena tekanan pekerjaan karena semua relatif dan masih sebanding dengan gajinya. Tapi makin bertahan kebijakan yang dibuat mereka semua makin enggak masuk akal, kita banyak didzalimi dan makin tidak manusiawi," tulisnya.
Pemilik akun juga menjelaskan alasan tim Farmasi Rawat Inap memilih mengundurkan diri secara bersamaan. Ia mengklaim gaji yang semula dibayarkan secara bertahap kemudian tidak dibayarkan selama tiga bulan dan akhirnya dipotong hingga hampir 50 persen.
"Kenapa kita memilih resign bersama? Karena kita kerja di pelayanan dengan tiga shift dan kita juga yang lebih banyak didzalimi. Dari gaji yang awalnya dicicil, tidak dibayar selama tiga bulan, dan dipangkas hampir 50 persen dari total gaji keseluruhan," tulisnya.
Dalam balasan komentar warganet, pemilik akun mengklaim pengunduran diri massal itu menyebabkan pelayanan Unit Farmasi Rawat Inap harus ditutup.
Isu keterlambatan pembayaran gaji di RSI Unisma Malang sebelumnya telah mencuat sejak Juni 2026. Saat itu, sejumlah pegawai mengaku gaji belum dibayarkan hingga hampir tiga bulan serta menuding adanya intimidasi terhadap karyawan yang menyampaikan aspirasi.
Namun, tudingan tersebut telah dibantah HRD RSI Unisma, Nofa Diana. Menurutnya, manajemen tidak pernah melarang pegawai menyampaikan aspirasi dan masih mendalami dugaan intimidasi yang beredar.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan terbaru dari pihak RSI Unisma terkait viralnya unggahan mengenai dugaan pengunduran diri massal tim Farmasi Rawat Inap tersebut.
(rin/red)
