![]() |
| Inovasi mesin kompos dan eduwisata digital mengantarkan dua organisasi mahasiswa UMM ke final Abdidaya Ormawa 2026, Foto.UMM |
Hariancendekia.com | Dua organisasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) lolos ke final Anugerah Abdidaya Ormawa 2026. Salah satu inovasi mereka mampu memangkas waktu pengomposan limbah pertanian dari tiga bulan menjadi 14–21 hari.
Kedua tim tersebut adalah Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (Himatekpa) dan Lembaga Semi Otonom Himpunan Observasi Iptek Mahasiswa (LSO Hipotesa). Keduanya akan bersaing dalam ajang nasional yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Universitas Muslim Indonesia, Makassar, pada 21–25 Oktober 2026.
Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM, Ary Bakhtiar, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti komitmen kampus dalam menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
“Pencapaian ormawa ini adalah wujud nyata dan salah satu bentuk implementasi komitmen UMM sebagai Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak,” ujar Ary.
Salah satu inovasi unggulan datang dari LSO Hipotesa melalui mesin Pre-Kompos MultiStage di Desa Tawangargo, Kabupaten Malang. Teknologi ini menyasar persoalan limbah pertanian yang mencapai sekitar 350 kilogram per hari.
Mesin tersebut dilengkapi sensor suhu dan kelembapan berbasis Internet of Things (IoT), serta memanfaatkan agen hayati Trichoderma untuk mendukung pengomposan.
Sementara itu, Himatekpa mengembangkan program Kasegher di Desa Sukolelo, Kabupaten Pasuruan. Program ini mengintegrasikan potensi wisata desa dengan Smart BioDome berbasis IoT, situs web pariwisata, dan pembayaran digital melalui QRIS.
Tim Himatekpa juga membina lima produk UMKM lokal untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
Ary mengatakan UMM mendukung program mahasiswa melalui pendanaan, subsidi keberangkatan, hingga pendampingan dan pengurusan paten.
Ia berharap kedua inovasi tersebut tetap dimanfaatkan masyarakat setelah kompetisi berakhir. (Red)
